Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Keluarga yang Berkumpul di Surga

Seorang ayah mengajarkan anaknya mengaji

"Dan orang-orang yang beriman serta anak cucu mereka yang mengikutinya dalam keimanan, kami akan kumpulkan (di Surga) bersama anak-cucu mereka" QS At-Thuur : 21.

Pada suatu kesempatan, Nabi saw menasihati putri kesayangan beliau yang bernama Fathimah. "Wahai Fathimah binti Muhammad, beramallah untuk bekal (akhirat)-mu. Karena aku (Nabi saw) tidak akan bisa menolong engkau sedikitpun di akhirat nanti," tegas Rasulullah saw.

"Subhaanallah," begitulah nasihat Nabi saw untuk Fathimah. Dan memang orangtua tidak dapat memberikan garansi kepada anak-anaknya, kecuali sang anak mau berupaya menggapai surga itu.

Perhatikanlah apa yang terjadi pada Nabi Nuh as. Beliau berpisah dengan sang anak, lantaran si anak tidak mau mengikutinya beriman. Bahkan ketika air banjir bandang datang, ketika sang anak timbul tenggelam dipermainkan gelombang air bah, sebagai ayah, Nuh as tidak tega melihatnya. Dan diapun berdoa:

"Ya Rabbi, itu anakku adalah keluargaku. Sungguh janji Engkau benar, dan hanya Engkau Hakim yang Maha Adil," pinta Nuh as.

Allah swt menjawab: "Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah tergolong keluargamu, karena dia tidak beramal sholeh. Maka janganlah engkau meminta kepadaKu sesuatu yang engkau tidak mengetahuinya,".

Ternyata, sekalipun itu adalah anak kandung nabi Nuh as, namun jika dia tidak beriman, maka Allah swt mengatakan bahwa anak itu bukanlah termasuk anggota keluarganya.

Di samping usaha keras untuk mendidik dan mengarahkan tanggung jawab kita, anak-anak tercinta bersama isteri, agar kelak dapat berkumpul di surga Allah, maka janganlah lupa berdoa untuk meraih kebahagiaan tersebut.

Karena sesungguhnya kebahagiaan hakiki itu adalah, tatkala kita bisa berkumpul dengan keluarga dalam keadaan beriman dan bertakwa saat di dunia, kemudian berhasil pula berkumpul kembali di surga Allah swt kelak. Semoga saja kita bisa meraihnya.

Namun ingatlah akan Hadits Nabis saw: "Nanti di hari Kiamat, seseorang suami diseret ke tengah-tengah Padang Mahsyar. Bergelayutan isteri dan anak-anaknya di lengan kanan dan lengan kirinya,".

Ketika dihisab, ternyata sang suami bisa masuk surga, lantaran amalnya cukup. Sementara sang isteri dan anak-anaknya dinyatakan masuk neraka, lantaran kurang amal saat di dunia.

Lalu sang isteri berkata: "Ya Allah, demi keadilan Engkau. Saya dinikahi dan dipergauli, tapi saya tidak diajari Islam yang saya tidak mengerti. Ambil hak kami dari laki-laki ini," ujar isterinya sambil menunjuk-nunjuk suaminya.

Lalu anak-anaknyapun protes: "Ya Allah, demi keadilan Engkau. Saya dinafkahi dan diberi harta, tapi saya tidak diajari Islam yang saya tidak mengerti. Ambil hak kami dari ayah kami ini," ujar anak-anaknya.

Akhirnya, semua keluarga itu dimasukkan ke dalam neraka. "Nau’dzubillahi min dzalik".

Oleh: Tiffatul Sembiring (Menkominfo)
Lengkapnya Klik DISINI

Palestina, IM, dan Hasan Al Banna di Mata Abdullah Azzam

Upaya Pengembalian Kekhalifahan Islam Pertama Kali
 
Khilafah Utsmaniyah jatuh pada tahun 1924 M,. Upaya pertama kali yang dilakukan untuk mengembalikan kekhalifahan Islam dimulai tahun 1928 M, oleh gerakan Ikhwanul Muslimin yang dipimpin oleh hasan al Banna, mudah mudahan Allah merahmatinya…

Pada mulanya musuh musuh Allah tidak menyadari gerakan Hasan Al Banna, sehingga gerakan yang dipimpinnya tumbuh dengan pesat dan pengikutnya bertambah banyak. Wallahu Alam, yang Nampak oleh kami, Hasan Al Banna adalah seorang lelaki yang mukhlis dan benar. Kami menyangka memang demikian keadaannya. Kami tidak bermaksud memujinya di hadapan Allah, dan kami tidakberani memuji muji seseorang di hadapan Allah.

Meskipun umur Hasan Al Banna masih muda belia saat itu, yakini sekita 23 atau 24 tahunan, namun berkat charisma yang dimilikinya, maka dalam waktu yang relative singkat dakwah Al Banna disambut oleh putra putra Mesir yang terbaik.

Begitu Hasan Al Banna ikut terlibat dalam kancah perang Israel di Palestina, maka barulah musuh musuh Allah sadar akan bahaya yang bakal ditimbulkannya, mereka mengatakan,”Gerakan Islam bersenjata yang dipimpin Hasan Al Banna mengajak umat Islam untuk menegakkan kembali kekhilafahan Islam. Maka gerakan itu harus dibasmi!.”

Waktu itu Hasan Al Banna mengirimkan satu battalion sukarelawan ke Palestina. Sukarelawan tersebut melakukan long march (jalan kaki) dari gurun Sinai ke Palestina, ini terpaksa mereka lakukan setelah mereka dipulangkan dari Aman Jordan. Semula mereka berangkat ke Palestina menumpang pesawat , pesawat tersebut membawa mereka dari Kaioro menuju Aman, sesampai di Aman mereka diperiksa. Begitu kedatangan mereka diketahui sebagai sukarelawan muslim dari Mesir, maka pemerintah Jordan segera mengembalikan pesawat tersebut kembali ke Kairo, tak seorangpun dari mereka yang diperbolehkan turun. Mereka dipulangkan kembali ke Kairo oleh panglima Pasukan Jordan yang menjadiantek Inggris.

Bila Ada Suatu Negeri Muslim Teraniaya, Negeri Muslim Sekitarnya Hanya Diam
 
Akhirnya mereka memutuskan untuk masuk ke Palestina dengan jalan kaki, menyeberangi Terusan Suez, melintasi Gurun Sinai dan kemudian masuk ke kantong kantong persembunyian di negeri Palsetina. Dari situlah mereka melancarkan operasi penyerangan.

Begitu Hasan Al Banna melihat Palestina ingin di caplok Yahudi, sementara negeri negeri Arab yang berada di sekitarnya hanya diam dan melihat saja, maka dia mengirim telegram kepada pemimpin pemimpin Arab. Dalam telegram itu Hasan Al Banna mengatakan, “ Jika kalian memang benar benar serius dalam usaha kalian menyelamatkan Palestina maka izinkanlah saya memasukinya dengan 100,000 sukarelawan untuk membersihkan negeri tersebut dari orang orang Yahudi.

Isi telegram tersebut juga sampai kepada mereka yang mengadakan konferensi  internasional di Alaya. Maka pada hari itu juga  atau pada hari keduanya, duta Amerika, Inggris dan Perancis mengadakan siding darurat di Fayed, sebuah kota yang terletak di sepanjang terusan Suez.

Mereka memutuskan untuk menghantam sayap kekuatan Ikhwanul Muslimin. Kemudian keputusan itu mereka kirimkan kepada Naqrasyi Basya, Perdana menteri Mesir, agar melaksanakan keputusan tersebut – bukan kepada raja Farouk yang memegang kekuasaan tertinggi di Mesir – Maka dimulailah aksi persengkokolan jahat mereka untuk menumpas Ikhwanul Muslimin. Kantor kantor jamaah ditutup, ribuan pemuda Ikhwan dipenjarakan dan sebagian petinggi Ikhwan dihukum mati. Namun pemimpinnya Syeikh Hasan Al Banna dibiarkan bebas akan tetapi diawasi dengan ketat.

Namun, sebelum dilaksanakannya keputusan ini, ada empat battalion sukarelawan Ikhwanul Muslimin dari Mesir berhasil masuk Palestina. Ditambah lagi 1 batalion Ikhwan dari Suriah yang dipimpin oleh Syeikh Musthafa As Siba’I , 1 batalion Ikwan dari Irak yang dipimpin oleh Syeikh Muhammad Mahmud Ash Shawwaf, 1 batalion Ikhwan dari Yordania yang dipimpin oleh Abdul Latif Abu Quroh.

Pembunuhan Hasan Al Banna

Pada hari perayaan ulang tahun Raja Farouq, terjadi usaha pembunuhan terhadap Hasan Al Banna. Usaha ini didalangi kepala intelijen istana Raja, Mahmud Abdul Majid. Mereka menembaki mobil yang ditumpangi Hasan Al Banna, yang akan memberikan ceramah di suatu tempat. Hasan Al Banna dan supirnya terluka, namun luka Al Banna tidak terlalu berat, hanya supirnya yang mengalami luka cukup serius. Hasan Al Banna menenangkan supirnya, “ Hanya luka ringan saja , Alhamdulillah”. Lalu dia turun dari kendaraan dan mencatat nomor mobil yang menembakinya.

Hasan Al Banna dibawa ke rumah sakit Qashr Aini (Rumah sakit Universitas Al Qahirah) dan dimasukkan ke ruang operasi.

Raja Farouq menghubungi petugas rumah sakit sewaktu Hasan Al Banna terbaring di ruang operasi, menanyakan pada mereka tentang keadaan Hasan Al Banna. Mereka menjawab, “Lukanya ringan”.

Maka Raja Farouq kemudian mengirim seorang perwira bernama Muhammad Washfi untuk membunuh Hasan Al Banna. Muhammad Washfi masuk ruang perawatan dan memerintahkan agar orang orang yang ada di sana keluar. Lalu dia menutup pintu ruangan  dan kemudian membunuh Hasan Al Banna di tempat itu juga.

Tak lama kemudian pihak Rumah Sakit mengumumkan wafatnya Hasan Al Banna. Lalu aliran listrik diputus dan jenazah Al Banna dipindahkan dengan kawalan tank tank yang berderet di sepanjang jalan dekat rumah sakit itu. Tak seorang pun diperkenankan untuk menshalati jenazah Hasan Al Banna, kecuali empat orang wanita saja. Jenazahnya dikubur dengan pengawalan yang sangat ketat dari pengawal Raja Farouq yang lalim.

 sumber: eramuslim.com
Lengkapnya Klik DISINI

Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami

Judul: Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami
Pengarang: M. Lili Nur Aulia
Penerbit: Pustaka Da’watuna
Cetakan III, Januari 2008
***
Buku ini menggambarkan secara ringkas ajaran-ajaran atau doktrin-doktrin yang ada di suatu jamaah dakwah. Orang-orang menyebut jama’ah dakwah ini dengan nama; jama’ah tarbiyah (pada tahun 1999, jamah tarbiyah memasuki wilayah politik Indonesia dengan menggunakan sarana partai politik bernama Partai Keadilan, sekarang bernama Partai Keadilan sejahtera). Walau tidak bisa disebut buku seluk beluk-nya jama’ah tarbiyah tapi buku ini cukup bisa memberikan tayangan yang utuh mengenai sikap, prinsip, alasan, dan komitmen jamaah tarbiyah.
 
Bagi internal kader jamaah tarbiyah, buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca dan ditelaah. Karena sangat membantu menajamkan pandangan dan meluruskan hal-hal yang selama ini dianggap tidak salah.
Kalau anda bukan kader jamaah tarbiyah, tidak mengenal tapi ingin tahu lebih banyak tentang jamaah tarbiyah, maka jika ada kesempatan cobalah baca buku ini .
 
Dari Sini Kami Memulai
 
Pelajaran ke-1: Bukan dakwah yang membutuhkan kami tapi kami yang membutuhkan dakwah. Dakwah adalah MLM sesungguhnya dalam menabung pahala, seperti sabda Rasululah SAW: “Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk Allah, maka ia akan mendapat pahala yang sama seperti jumlah pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun oleh pahala mereka (HR. Muslim). Dakwah juga dapat medatangkan limpahan doa dan rahmat dari Allah juga seluruh makhluk-Nya seperti sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah, para malaikat, semut yang ada di lubangnya, bahkan ikan yang ada di lautan akan berdoa untuk orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia (HR. Tirmidzi). Dakwah juga dapat menjadi penghalang turunnya adzab Allah, “dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?. Mereka menjawab: “agar kami mempunyai alasan (pelepasan tanggungjawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa” I(QS. Al-‘Araf: 164)
 
Pelajaran ke-2: Meninggalkan peran dakwah tidak pernah diterima apapun alasannya. Abu Bakar radhialahu anhu pernah berkata, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya manusia jika mereka melihat kemungkaran dan mereka tidak merubahnya, dikhawatirkan mereka akan disamaratakan oleh Allah SWT dengan azabnya (HR. Ahmad dan Abu Daud)
 
Pelajaran ke-3: Memilih teman harus didahulukan sebelum memulai perjalanan dakwah dan jalan dakwah ini akan menyeleksi sendiri anggota komunitasnya. Imam Al-Ghazali perna mengatakan bahwa setiap orang tergatung pada agama temannya, dan seseorang tidak dikenal kecuali dengan melihat siapa temannya.
 
Pelajaran ke-4: Amal jama’i (lebih dari sekedar kerjasama) adalah keharusan yang wajib kami penuhi. Agama memerintahkan kita untuk saling membantu dalam kebaikan, Allah berfirman: “dan hendaklah ada di antara kalian umat yang menyeru pada kebaikan, dan melarang dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang menang” (QS. Al-Imran: 104). Amal jama’I adalah kewajuban agar terbentuk suatu jamaah yang solid, karena manusia akan cenderung lemah ketika bekerja seornag diri. Musuh-musu Islam semuanya melakukan aksi secara berkelompok, maka kami harus melawan mereka juga dengan berkelompok, Allah berfirman: “Adapun orang kafir, sebagian dari mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (kaum muslim) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar” (QS. Al-Anfal: 73)
 
Pelajaran ke-5: Menempuh jalan dakwah mutlak memerlukan pemimpin. Kami telah menentukan pemimpin-pemimpin kami di jalan ini. Kepada mereka kami serahkan keputusan yang paling memenuhi maslahat. Maka setelah proses syuro (musyawarah) berlangsung, apapun keputusannya, itulah yang kami pegang untuk dijalankan karena hasil syuro bersifat mengikat. Seperti yang pernah dikatakan oleh Sa’id Hawa, bahwa hasil syuro tidak pernah salah karena mekanisme itulah yang dijabarkan Islam untuk menentukan langkah yang dianggap paling benar. Jika pada akhirnya, keputusan itu ternyata tidak memberikan hasil yang diharapkan, maka proses syuro kembali yang akan menindaklanjuti kekeliruan tersebut.
 
Pelajaran ke-6: Jiwa toleran agar dapat memahami dan bisa menyikapi dengan bijak sifat dan karakter sesama saudara di jalan ini. Kebersamaan membutuhkan kekompakkan , kesepakatan, kesesuaian, dan kedekatan. Selama tidak pada kategori yang jelas dan terang penyelewengan ari ajaran Allah dan Rasul-Nya, dan selama yang terjadi adalah hanya perbedan sudut pandang, karakter, sifat cara penyampaian dan semacamnya, maka kami belajar untuk semakin menyikapinya secara adil.
 
Pelajaran ke-7: Ini adalah jalan orang-orang yang menghendaki kebahagiaan akhirat. Di jalan ini, kami mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya. Bekal agar tetap teguh dijalan ini, juga bekal untuk menempuh perjalanan di akhirat. Ketakwaan adalah bekal utama yang sedang kami persiapkan. Ketika takwa melemah maka intensitas dakwahpun menurun dan perbekalankami menuju akhirat menjadi berkurang.
 
Ketika Kami Membangun Kebersamaan
 
Pelajaran ke-8: Maing-masing kami adalah batu bata dalam bangunan dakwah yang siap ditempatkan dimanapun dibutuhkan. Dakwah adalah bangunan besar yang harus kokoh. Pembangunan dakwah telah dimulai oleh para anbiya dan orang-orang shaleh. Semakin besar bentuk bangunan, maka kualitas batu bata semakin harus tinggi, disinilah letak kontribusi yang harus kami lakukan.
 
Pelajaran ke-9: Setiap batu bata memiliki kekhasan yang unik yang akan menempati posisinya masing-masing tanpa ada kesenjangan derajat. Setiap kami memiliki kekhasannya masing-masing, seperti kekhasan Raslullah SAW yang tidak dimiliki nabi dan rasul sebelumnya, atau seperti Abu Bakar ra sebagai manusia penyayang, atau Umar bin Khattab ra sebagai manusia yang paling tegas dlam beragama, juga yang lainnya. Kekhasan inilahyang ternyata membawa mereka pada posisinya masing-masing dalam bangunan dakwah dan menaikkan derajat mereka di sisi Allah SWT karena amal-amal unggulan mereka berasal dari kekhasan mereka.
 
Pelajaran ke-10: Menjadi da’i merupakan pernyataan bahwa kami ingin lebih memberi perhatian dan pertolongan bukan sebaliknya. Kami menyadari dan berkeyakinan bahwa kehidupan seseorang akan menjadi lebih berharga ketika ia mempunyai saham dan peran bagi orang lain. Dan peran yang paling berharga adalah membantu manusia mengenal dan tunduk pada Allah SWT.
 
Pelajaran ke-11: jalan dakwah mengharuskan kami seimbang antara ibadah dan muamalah. Jalan ini membentuk kami memiliki paradigma keislaman yang ituh, mengenai semua sektor nilai-nilai Islam yang menjadi hajat kehidupan. Kami memahami Islam sebagai sebuah bangunan dengan ruang social, ekonomi, pendidikan, politik, budaya dan lainnya.
 
Pelajaran ke-12: Sebaik-baik bekal adalah takwa. Hidup di dunia bukanlah tujuan, tapi ia merupakan perjalanan; perjalanan di dunia dan perjalanan dari dunia. Maka jalan dakwah membantu kami dalam mempesiapkan bekal untuk kedua perjalanan tersebut terutama perjalanan dari dunia.
 
Pelajaran ke-13: Memiliki komitmen dengan jamaah dakwah adalah termasuk bekal takwa. Kebersamaan dalam suatu perjalanan biasanya akan menambah variasi perbekalan yang akan dibawa. Bersama dakwah, kami mendapati keberkahan dalam perbekalan di jalan ini. Anas bin Malik pernah berkata: “Aku mencintai Allah dan Rasul-Nya juga Abu Bakar dan Umar. Aku berharap bisa selalu bersama mereka”.
 
Pelajaran ke-14: Kebersamaan kami diikat oleh lima hal. Lima hal tersebut adalah; ikatan aqidah, ikatan pemikiran, ikatan persaudaraan, ikatan organisasi, dan ikatan janji. Tidak ada satu perkumpulanpun yang diikat dengan lima ikatan sekaligus kecuali kebersamaan di jalan ini.
 
Pelajaran ke-15: Memang tidak semua manusia harus terikat secara formal untuk bergabung dan berjuang menegakkan dakwah ini. Muslim manapun yang tidak bergabung dengan jamaah ini, maka kami harus memelihara husnudzan dengan mereka. Kami tetap memelihara hubungan kerja yangbaik dengan mereka, menyambung tali-tali harapan mereka. Tidak ada masalah mereka kan memberikan afiliasinya secara formal kepada dakwah kami ataupun tidak, Selama mereka mempunyai afiliasi kepada Islam, maka kamilah yang akan mencarikan saluran-saluran afiliasi keislamannya itu dalam bentuk perjuangan dakwah yang sedang lami lakukan.
 
Pelajaran ke-16: Mewaspadai faktor yang melemahkan amal jama’i. Ada beberapa keadaan yang umumnya bisa melemahkan seseorang dalam beramal jama’i, yaitu: pemahaman bahwa amal jama’i adalah ibadah nafilah yang boleh ditinggalkan, ketakutan dan kekhawatiran jika amal jama’i menjadi berkembang, dan motif ketertarikan terhadap individu bukan kepada manhaj (aturan/sistyem/cara)
 
Pelajaran ke-17: Tsiqah adalah mahar yang harus ditunaikan oleh qaid (pemimpin) dan jundi (anggota). Ketsiqahan, atau kepercayaan harus ditunaikan secara bersama oleh pemimpin kepada anggota dan oleh anggota kepada pemimpin. Maka pemimpin, sudah seharusnya menjaga keterpaduan dirinya dengan anggotanya dengan cara melibatkan anggota dalam proses syuro untuk mendapatkan keputusan yang terbaik. Bukankah kekalahan pada perang uhud, telah memberikan banyak peljaran mengenai ketsiqahan?.
 
Pelajaran ke-18: Setiap orang di jalan ini tidak harus dan tidak boleh menyembunyikan kemampuannya, mengubur bakatnya dan mengebiri ide-idenya untuk ditempatkan dimana sja sesuai kehendak dan perintah pimpinan. Rasulullah SAW sangat terbuka dengan saran dan kritik yang diajukan oleh para sahabat, kalau memang itu adalah keputusan terbaik Rasulullah tidak akan segan menerimanya. Rasulullah SAW juga pandai memberdayakan potensi para sahabat, mereka diberi posisi yag sesuai dengan keahliannya masing-masing, walaupun begitu Rasulullah tidak mau basa-basi kepada seseorang demi kemaslahatan umumn terutama dalam memilih pemimpin
 
Perjalanan Beraroma Semerbak
 
Pelajaran ke-19: Keterikatan pada jama’ah bisa membersihkan hati dari kedengkian. Dalam hidup ini, setiap orang mempunyai kelompok dan jama’ahnya sendiri-sendiri. Setiap kelompok mempunyai simbol dan syiarnya sendiri-sendiri. Tapi setiap orang, jika tidak diikat dan dihimpun oleh kebenaran, maka ia akan tercerai berai oleh kejahatan.
 
Pelajaran ke-20: Jalan dakwah menempa kami menghargai waktu. Kehidupan di jalan dakwah tidak lepas dari aktifitas pemenuhan target dan amal ibadah yangtelah disepakati yang dievaluasi setiap pekan dalam pertemuan tarbiyah.
 
Pelajaran ke-21: Kami mengambil energi dari kelebihan-kelebihan saudara kami. Saudara kami memiliki amal unggulannya masing-masing. Melalui mereka, kami bercermion dari keistimewaan tersebut dan berlomba maniru kebaikan mereka
 
Pelajaran ke-22: Mendapatkan energi dari kesalihan saudara kami. Kesalihan seseorang memiliki aroma yang bisa dihirup oleh siapapun yang berada dan berinteraksi dengannya
 
Pelajaran ke-23: Ketersembunyian dalam melakukan amal shaleh tetap diperlukan. Kebersamaan dalam jamaah ini tidak serta merta membuat kami lupa bahwa amal yang dilakukan secara tersembunyi tetap dibutuhkan.Hal ini untuk menjaga keikhlasan dan dinamika amal shaleh kami
 
Pelajaran ke-24: Amal shaleh yang tetap harus ditampilkan. Ketika kejahatan mendominasi publik, maka amal shaleh tertentu harus ditampilkan. Amal shaleh yang diperintahkan untuk ditampilkan tidak boleh terhalang oleh alasan: takut riya karena meninggalkan amal shaleh karena takut riya itu berarti telah riya.
 
Pelajaran ke-25: Membina orang lainbagi kami sama dengan membina diri sendiri. Karakter dan sikap-sikap pemimpin akan turun mewarnai anggota-anggota yang dibina dan didakwahi.
 
Pelajaran ke-26: Berpikir negatif akanmelemahkan dan menghancurkan semangat. Sudut pandang yang melihat bahwa kondisi sudah sangat rusak, atau seseorang telah melakukan terlalu banyak kesalahan sehingga sulit dirubah, adalah sudut pandang yang melemahkan dan mematikan semangat berdakwah. Maka kami arus mewaspadai segala informasi miring tentang seseorangatau situasi tertentu yang bisa memunculkan lemahnya semangat melakukan lebih banyak lagi kebaikan.
 
Ketika Melewati jalan Mendaki
 
Pelajaran ke-27: Mengkaji yang tersirat dari yang tersurat. Kekecewaan demi kekecewaan yang dirasakan ketika berada di jalan dakwah ini harusnya bisa kami sikapi dengan proporsional tanpa harus keluar meninggalkan jama’’ah. Maka jika kami merasakan kegersangan, kegelisahan, dan ketidaknyamanan dalam berinteraksi bersama saudara-saudara kami di jalan ini, sebaiknya kami melihat diri kami lebih dulu, dan lalu melakukan prasangka baik kepada orang lain, sampai jelas suatu kebenaran itu benar dan suatu kesalahan itu salah. Kemudian jika keburukan yang kami duga itu benar, maka kami harus menempuh mekanisme penyampaian nasehat dengan baik dan benar.
 
Pelajaran ke-28: Sakralisme hanya membawa sedikit manfaat. Sakralisme ternyata memiliki sedikit saja nilai positif, yaitu jika orang yang disakralkan melakukan amal shaleh maka banyak orang lain yang akan mengikutinya, tapi jika orang yang disakralkan melakukan keburukan banyak pula yang akhirnya kecewa. Jalan kebenaran tidak boleh kami tinggalkan dengan alasan adanya personil yang tidak sejalan lagi dengan misi kebenaran. Kami menyimpulkan bahwa lari dari kewajiban meluruskan dan memperbaiki dengan meninggalkan jama’ah dakwah sama sekali tidak memberi maslahat untuk mengusir kerusakan yang ada.
 
Pelajaran ke-29: Tidak boleh ada bias orientasi di jalan ini. Ketetapan kami untukmemasuki wilayah politik harus diiringi dengan rutinitas evaluasi yang ketat. Kami yakin bahwa politik adalah salah satu kendaraan dakwah yang bisa digunakan jika situasinya memungkinkan untuk digunakan. Politik adala mimbar dakwah yang efektif jika bisa dikelola dengan baik oleh orang-orang yang tepat. Bahkan kami berkeyakinan bahwa menduduki kekuasaan sambil berkoalisi dengan pemerintah bukanlah perilaku yang tercela. Yang menjadi persoalan seharusnya adalah bagaimana proses pencapaian kekuasaan itu dan bagaimana pengelolaan kekauasaan itu.
 
Pelajaran ke-30: Kesalahan adalah sebua resiko aktifitas. Ini bukan jamaah malaikat. Ini adalah jamaah manusia, yaitu jamaah orang-orang yang ingin memperbaiki diri dari kekeliruan. Kami berkeyakinan bahwa kesalahan tidakk boleh dilakukan dua kali. Dan kesalahan yang telah dilakukan adalah resiko bagi siapapun yang terus bergerak.
 
Pelajaran ke-31: Memelihara dominasi kebaikan saudara saat ia melakukan keburukan. Ketika ada informasi miring yang kami terima terkait dengan saudara-saudara kami, maupun institusi dakwah kami, maka pada saat itu kami arus memiliki tawaqquat (daya antisipatif) dan manna’ah (daya imunitas) yang memadai. Bersamaan dengan ituu, kami tetap harus merespon berbagai informasi negatif itu dengan tabayun (klarifikasi) pada pimpinan dan melokalisir penyebaran informasi yang tidak jelas kebenarannya dengan tidak menyampaikan pada khayalak yang lebih luas baik internal ataupun eksternal. Kami hanya berkewajiban untuk melaporkan pada pimpinan yang berwenang agar segera diselidiki, digali, dianalisis, disimpulkan dan diambil langkah-langkah yang diperlukan. Cukuplah pembunuhan Utsman bin Affan menjadi pelajaran berharga disebabkan munculnya banyak fitnah akibat ‘keburukan’ yang dibicarakan secara terbuka.
 
Pelajaran ke-32: Seni menyikapi kesalahan itu beragam. Kami berkeyakinan bahwa kekeliruan saudara kami tidak boleh disebarluaskan. Jika benar kekeliruan tersebut telah dilakukan ole saudara kami maka kami harus bercermin dari kesalahan itu. Tidak ada yang sempurna dalam kehidupan ini, maka saudara-saudara kami termasuk guru dan pemimpin akami tentu saja masuk dalam bingkai ketidaksempurnaan tersebut.Walaupun begitu, kesalahan-kesalahan harus tetap diluruskan dan kesalahan-kesalahan harus bisa membuat kami lebih tawadu.
 
Pelajaran ke-33: Dakwah tidak mengenal kata pensiun. Tidak ada kata pensiun dalam kamus dakwah. Yang ada adalah kata uzlah (mengasingkan diri). Namun tetap saja, berbaur dengan orang lain dalam berdakwa lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan orang yang memiliki keshalehan untuk dirinya sendiri.
 
Pelajaran ke-34: Nasihat adalah tiang penyangga agama. Nasihat, kritik, teguran, aspirasi, benar-benar kami perlukan di jalan dakwah ini. Jika kami mengabaikan nasihat, maka persaudaraan kami akanmudah hancur.
 
Kesejukan yang meringankan langkah
 
Pelajaran ke-35: Saling medoakan di antara sepi. Kami belajar menikmati doa untuk saudara-saudara kami agar terbuka hatinya menerima dakwah, agar diberi keistiqamahan juga kekuatan iman, agar Allah menguatkan ikatan hati kami. Jika air mata kami menitik ketika melantunkan doa untuk mereka, maka suasana seperti ini tidak akan pernah kami alami kecuali ketika kami berada di jalan ini, jalan dakwah.
Pelajaran ke-36: Kesan dari sejarah orang-orang shalih. Ada pengaruh yang kuat dan perasaan penghayatan yang mendalam dengan membaca sejarah kehidupan Rasulullah SAW, para sahabat, dan orang-orang shaleh.
 
Pelajaran ke-37: Keletihan yang menjadi energi dan kesulitan yang menambah kekuatan. Keletihan yang diiringi dengan kekuatan ruhiyah akan menjadi energi baru dalam seketika. Keletihan ini diapat dengan cara, memurnikan kembali niat beramal karena dakwah kepada Allah SWT, tetap memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan terutama harta, tidak meninggalkan amal ibadah wajib juga sunnah, dan tidak mengumbar keletihan kecuali hanya kepada Allah SWT dengan cara bermunajat kepada-Nya. Pun begitu juga dengan kesulitan, bahwa factor kesulitan akan menyebabkan munculnya suatu gerak dan aktifitas.
 
Pelajaran ke-38: Keterasingan ini menguntungkan bagi kami. Rasulullah pernah berdabda, bahwa Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi yang asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing, yaitu orang-orang yang melakukan perbaikan disaat manusia melakukan keburukan.
 
Pelajaran ke-39: Di jalan ini, kami selalu memperbaiki diri. Beragam pengalaman yang kami peroleh di jalan dakwah ini, mengilami bahwa keberadaan kami di sini merupakan sarana yang memudahkan kami memperbaiki diri, saat kami melakukan kemaksiatan dan dosa.
 
Pelajaran ke-40: Potensi besar yang tersingkap di jalan ini. Taubat dan menapakki kaki di jalan dakwah ini adalah dua hal yang sangat berkaitan. Dengan bertaubat dan kembali kepada Alla SWT, seseorang akan memulai lembaran baru dengan diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Di jalan dakwah ini, taubat akan senantiasa terpelihara. Taubat yang terpelihara akan menyingkap berbagai potensi diri yang tersembunyi.
 
Pelajaran ke-41: kami bergerak karena diri kami sendiri bukan orang lain. Apapun yang kami tempuh, kami lah yang akan menerima kebaikan dan keburukannya. Kami tidak boleh terlibat dalam dakwah hanya karena terpesona figure atau kekaguman kami terhadap seorang da’I atau pemimpin. Tapi dari merekalah kami belajar bahwa motif dan dorongankami berada di jalan dakwah harus muncul dari motivasi iman.
 
Pelajaran ke-42: Bagaimanapun, kesempurnaan tetap harus dikejar. Manusia adalah tempat lalai dan dosa. Maka kami arus kembali dari kelalaian kami dan mengevaluasi kekeliruan kami. Kami harus membangkitkan sensitifitas iman dari dosa dan kelemahan karena iman itu akan bertambah dengan ketaatan dan akan berkurang dengan kemaksiatan
 
Pelajaran ke-43: Tempat peristirahatan itu bernama canda. Kami tetap membutuhkan peristirahatan dalam jalan dakwa ini. Yaitu tempat merasakan kegembiraan bersama, melepas ketegangan, meregangkan otot dan sendi-sendi. Di jalan ini kami memiliki ruang untuk tersenyum dan tertawa dengan porsi dan batasan etikanya.
 
Pelajaran ke-44: Perjalanan ini tidak boleh berhenti. Ini adalah jalan panjang, jalan kebenaran. Maka kami harus tetap bertahan danmeneruskan perjalanan ini. Kami tiak boleh tergelincir akibat orang-orang yang tergelincir di jalan ini
http://aisyahmuchtar.wordpress.com/2008/12/19/beginilah-jalan-dakwah-mengajarkan-kami/
Lengkapnya Klik DISINI

Coba Dicek, Pemimpin Anda Raja atau Khalifah?

said hawaIbnu Saad meriwayatkan bahwa Sufyan bin Abi Auja berkata bahwa suatu kali Umar Ra berkata, ” Demi Allah, Aku tidak tahu apakah aku ini khalifah atau Raja? Seandainya aku seorang raja, maka itu merupakan sesuatu yang hebat!”

Lalu seseorang berkata,”Wahai Amirul Mukminin, ada perbedaan antara khalifah dan raja. Khalifah hanya mengambil berdasarkan yang hak dan meletakkannya pada yang hak. Alhamdulillah, engkau demikianlah adanya. Sementara raja bertindak semena mena terhadap orang orang, merampas harta dari si fulan dan menyerahkan ke si fulan lainnya semaunya,” setelah mendengar itu Umar terdiam.

Umar Ra bertanya kepada Salman Ra, ” Apakah aku ini seorang raja atau khalifah?”

Salman menjawab,” Jika engkau memungut pajak dari hasil bumi kaum muslimin senilai satu dirham saja atau kurang dari itu atau lebih, kemudian engkau peruntukkan pada yang bukan haknya, maka engkau adalah seorang raja, dan bukan khalifah.
…..
Rasulullah SAW telah meletakkan kepada manusia, sesuai perintah Allah SWT, mengenai syariat dalam perkara harta benda, mustahil ditemui lebih adil dari sistem Islam. Dengan berdasarkan kepada syariat Islam, maka harta benda seseorang tidak akan dipungut Negara kecuali dengan jalan yang adil, dan seseorang pun akan memiliki sesuatu harta benda dengan cara yang hak dan adil pula.

Sebelum muncul syariat ini, didunia tidak pernah muncul satu teori pun yang adil dan relevan untuk mengatur perkara hak milik ini, tidak satupun dijumpai teori hukum yang adil pula mengenai perpajakan.

Ketahuilah moto para pemerintah sebelum Islam (Jahiliyah) adalah Pajak, sementara moto pemerintahan Islam adalah Hidayah berupa optimalisasi zakat.

Dr Alfred J Butler menulis tentang pemerintahan Romawi di Mesir, ” Pemerintahan Romawi di Mesir tidak punya sasaran lain kecuali merampas harta benda milik rakyat untuk disajikan kepada penguasa sebagai harta rampasan. Tidak pernah terlintas dalam benak mereka untuk menjadikan pemerintahan sebagai sarana mewujudkan kemakmuran rakyat, meningkatkan taraf hidup masyarakatnya, mendidik SDM nya atau memperbaiki urusan sumber sumber rezeki mereka. Corak pemerintahan orang orang asing yang hanya mengandalkan kekerasan dan tidak pernah mengenal rasa belas kasihan kepada rakyat yang dipimpinnya.”

Beliau juga menulis tentang kondisi Persia selama dibawah dinasti Sassania, Para pemungut pajak itu tidak jauh dari tipu daya dan merampas harta benda rakyat dalam menaksir pajak pajak yang harus ditunaikan. Apa yang pernah dilakukan Kisra Anussyirwan dalam merenovasi sistem keuangan pada zamannya, lebih menguntungkan kepentingan keuangan istana daripada kepentingan rakyatnya. Rakyat jelata masih terus hidup dalam kebodohan dan kemelaratan seperti sebelumnya. Terlebih lagi kaum petani yang mengalami penderitaan dan kesengsaraan yang kelewat batas. Para petani tidak diizinkan pindah dari ladang ladang kaum bangsawan, dipekerjakan dengan kecil, serta dibebani semua pekerjaan berat.

Begitulah bila pajak diberlakukan untuk kaum Muslimin, sebagai salah satu indikasi dan memperjelas bahwa siapakah pemimpin itu adalah berperan sebagai Khalifah Allah atau hanyalah seorang raja, seperti raja raja yang telah berlalu tanpa memberikan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya. —- Said Hawwa, Ar Rasul

sumber: eramuslim
Lengkapnya Klik DISINI

BUKU PERSEMBAHAN CINTA ISTERI HASAN AL-BANNA - MUHAMMAD LILI NUR AULIA

Keterangan:

Harga: 22.000,-
Sepintas lalu tentang buku ini:
Hasan Al-Banna memanglah seorang suami yang memiliki perhatian dan sikap istimewa terhadap keluarganya, namun tugas dakwah yang dipikulnya, jelas sangat memerlukan seorang isteri yang bukan hanya sekadar meneduhkan jiwanya, menenangkan perasaannya, membahagiakan hatinya tatkala dia di dalam rumah, tetapi juga yakin dan percaya kepada si isteri soal perawatan dan pendidikan anak-anaknya di rumah.
Kandungan:
Renungan 1
* Selalu Ada Perempuan Hebat Di Belakang Laki-Laki Hebat
Renungan 2
* Selalu Ada Perempuan Hebat Di Belakang Laki-Laki Hebat
* Kaum Perempuan Sebahagian Dari Satu Bangsa
* Mata Air Dakwah Itu Adalah Rumahnya
* Kenalkan, Ini Keluarga Besar Hasan Al-Banna
* Ibunda Yang Tegas Dan Istiqamah
* Ayahanda Yang Ahli Hadis Dan Pemimpin Masyarakat
* Membina Suasana Ilmiah Di Rumah
* Si Sulung Hasan Al-Banna, Anak Kesayangan
* Saling Menyayangi, Ibunda Dan Hasan Al-Banna
* Lathifah, Si Ratu Rumah Tangga
* Kenalkan, Inilah Isteri Hasan Al-Banna
* Lantunan Tilawah Berbuah Pernikahan
* Lamaran, Akad Nikah, Kenduri Dalam Dua Bulan
* Akad Nikah, Saat Peringatan Nuzul Al-Quran
* Belajar Makna Berkorban Dari Suami
* Sangat Percaya Kepada Suami
* Pendamping Setia Amanah Dakwah Suami
* Jalinan Persaudaraan Keluarga Yang Terus Bersambung
* Kerana Suami Merasakan Keteduhan Di Rumah
* Rumah Sewa Yang Kecil Bagaikan Istana
* Semua Kader Dakwah Adalah Anak-Anaknya
* "Hasan Al-Banna, Hadiah Terindah Dalam Hidupku"
* Lebih Mementingkan Dakwah Berbanding Peribadinya
* Hishamuddin Wafat, Al-Banna Sedang Berceramah
* Wanita Hebat Itu, Setelah Kepergian Suami
* Kenangan Hana, Saat Hari Meninggalkan Hasan Al-Banna
* Langkah-Langkah Yang Dahulu Kuat Itu Menjadi Layu
* Saling Menguatkan, Ibunda Al-Banna Dan Isteri Al-Banna
* Kunamakan Anakku, Istisyhad (Berharap Mati Syahid)
* Kesabarannya Saat Melahirkan Anak-Anak
* Perjuangan Dakwah Berlanjut Setelah Ditinggal Suami
* Iman Yang Mewaja, Menghadapi Ujian Dakwah Silih Berganti
* Apa Yang Dilakukannya Dalam Situasi Kritikal Itu?
* Berusaha Menyelamatkan Perpustakaan Hasan Al-Banna
* Wanita Hebat Itu Tutup Usia
 
 blog
Lengkapnya Klik DISINI

Definisi Hadits, Khabar, dan Atsar

 Definisi Hadits, Khabar, dan Atsar

Definisi

الْحَدِيْثُ مَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، سَوَاءً كَانَ قَوْلاً أَوْ فِعْلاً أَوْ تَقْرِيْرًا أَوْ صِفَةً

Hadits adalah segala sesuatu yang datang dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, baik yang berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, ataupun sifat

الْخَبَرُ مَا جَاءَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ عَنْ غَيْرِهِ مِنْ أَصْحَابِهِ أَوِ التَّابِعِيْنَ أَوْ تَابِعِ التَّابِعِيْنَ أَوْ مَنْ دُوْنَهُمْ

Khabar adalah segala sesuatu yang datang dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ataupun yang lainnya, yaitu shahabat beliau, tabi’in, tabi’ tabi’in, atau generasi setelahnya

الأَثَرُ مَا جَاءَ عَنْ غَيْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الصَّحَابَةِ أَوِ التَّابِعِيْنَ أَوْ تَابِعِ التَّابِعِيْنَ أَوْ مَنْ دُوْنَهُمْ

Atsar adalah segala yang datang selain dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu dari shahabat, tabi’in, atau generasi setelah mereka

Contah-contoh

Contoh hadits qauly (perkataan)

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Sesungguhnya setiap amal itu dengan niat.”

Contoh hadits fi’ly (perbuatan) adalah hadits dari Aisyah radhiyallahu anha.

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ وَهُوَ جُنُبٌ غَسَلَ فَرْجَهُ وَتَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila akan tidur, sedangkan beliau dalam keadaan junub maka beliau berwudhu seperti wudhu untuk shalat.”

Contoh hadits taqriry (persetujuan) adalah hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu,

أَنَّ خَالَتَهُ أَهْدَتْ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمْناً وَأَضْبًا وَأَقْطاً فَأَكَلَ مِنَ السَّمْنِ وَ مِنَ الْأَقْطِ وَتَرَكَ الْأَضْبَ تَقَذُّرًا وَأُكِلَ عَلَى مَائِدَتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَوْ كَانَ حَرَاماً مَا أُكِلَ عَلَى مَائِدَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Bahwa bibinya memberi hadiah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berupa mentega, daging biawak dan keju, lalu beliau memakan mentega dan keju dengan meninggalkan daging biawak karena merasa jijik, tetapi daging itu dimakan di meja makan rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seandainya haram maka tak akan dimakan di meja Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Contoh hadits sifat, yaitu hadits yang memuat sifat pribadi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, adalah hadits dari Anas radhiyallahu anhu;

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَبْعَةً لَيْسَ بِالطَّوِيْلِ وَلاَ بِالْقَصِيْرِ حَسَنُ الْجِسْمِ وَكَانَ شَعْرُهُ لَيْسَ بِجَعْدٍ وَلاَ سَبْطٍ أَسْمَرُ اللَّوْنِ إِذَا مَشَى يَتَكَفَّأُ

Rasulullah itu tingginya sedang, tidak tinggi dan tidak pendek, tubuhnya bagus, rambutnya tidak keriting dan tidak lurus, warnanya coklat, apabila berjalan rambutnya bergoyang.


Amru Abdul Mun’im Salim

sumber: http://www.fimadani.com/definisi-hadits-khabar-dan-atsar/
Lengkapnya Klik DISINI

Inilah 7 Kebiasaan yang Bisa Lejitkan Potensi Diri

 Inilah 7 Kebiasaan yang Bisa Lejitkan Potensi Diri
Ibarat sebuah rumah, karakter merupakan penampilan rumah secara keseluruhan dan batu bata merupakan kebiasaan atau hal-hal yang sering dilakukan oleh seseorang Rumah yang kokoh pastinya tersusun oleh batu bata yang kokoh pula. Maka untuk membuat sebuah rumah yang baik, dibutuhkan batu bata yang sesuai dalam pembangunan rumah.

Karakter manusia pada dasarnya adalah gabungan dari kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus. Ada tujuh kebiasaan yang akan diuraikan dan merupakan kebiasaan yang dapat memberi hasil jangka panjang yang menguntungkan secara maksimum. Ketujuh kebiasaan ini memberikan pendekatan yang meningkat, berurutan dan sangat terpadu bagi perkembangan efektivitas sehingga dapat melejitkan potensi dan mengokohkan karakter seseorang.

Adapun tujuh kebiasaan tersebut adalah:

1. Bersikap Proaktif 

Proaktif merupakan inisiatif dan rasa tanggung jawab untuk membuat segala sesuatunya terjadi. Orang yang proaktif bergerak berdasarkan nilai dan pilihan sadar sehingga tidak mudah kecewa dan dipengaruhi oleh kondisi di sekitarnya. Contohnya, ada seorang pelayan Rumah Makan Padang di Sukabirus. Pelayan tersebut melayani pembeli yang datang dengan ramah dan sopan. Akan tetapi, seringkali dia mendapatkan teguran dari para pembeli yang datang ke rumah makan tersebut karena pesanan yang terlalu lama dibuat, kesalahan dalam memberikan pesanan, dan sebagainya. Hal tersebut ternyata tidak membuat pelayan tadi merasa frustasi dan putus asa, melainkan justru menjadi cambukan baginya untuk melangkah lebih baik lagi. Pelayan tersebut berprinsip bahwa “bukan apa yang terjadi pada diri kita, melainkan respon kita terhadap apa yang terjadi pada diri kitalah yang menyakiti kita.” Oleh sebab itu, pelayan tersebut sama sekali tidak kecewa atas perlakuan yang dia terima dari pembeli. Dia tetap fokus terhadap nilai dan tanggung jawabnya dalam memberikan dan meningkatkan kualitas pelayanan terhadap para pembeli.

2. Mulai Dari Akhir 

Mulai dari akhir merujuk pada pengertian yang jelas tentang tujuan utama dalam suatu kegiatan. Pada dasarnya manusia seringkali terjerembab dalam perangkap aktivitas dan kesibukan hidup. Manusia bekerja untuk terus bisa menaiki anak tangga keberhasilan, tetapi tak jarang mereka mengetahui bahwa ternyata mereka menaiki tangga yang salah. Dalam contoh kasus, ketika pihak kampus IT Telkom ingin membangun gedung laboratorium dan penelitian. Tentulah sebelum merealisasikannya, pihak kampus harus mengetahui dan membuat design dari gedung tersebut. Berapa lebar tanah yang digunakan untuk pembangunan gedung, berapa ruangan yang akan dibangun di dalam gedung, dan gambaran-gambaran yang jelas tentang perangkat tambahan bagi gedung. Setelah itu, pihak kampus akan mengomunikasikannya dengan pihak arsitektur dan pekerja bangunan. Inilah pentingnya mengetahui terlebih dahulu visi atau tujuan dalam memulai suatu pekerjaan. Untuk itu, kita semua harus mengetahui tujuan akhir yang jelas sehingga dapat mendeteksi dan mengetahui langkah-langkah yang diambil tetap berada pada arah yang benar dan sesuai dengan tujuan tersebut.

3. Dahulukan Yang Utama

Setiap orang pasti memiliki berbagai aktivitas dan kesibukan di dalam hidupnya. Sebagian besar sangat sulit untuk membagi dan mengatur waktu dalam melaksanakan aktivitas tersebut. Hal yang terbaik adalah organisir dan laksanakan menurut prioritasnya.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” ( QS Al Ashr :1-3)
Ada empat matriks manajemen waktu:
  • Penting dan mendesakYaitu kegiatan yang harus dilaksanakan secepat mungkin karena merupakan hal yang penting dan harus segera dilaksanakan. Dalam contoh kasus, ketika mahasiswa IT Telkom yang tergabung dalam suatu penelitian harus segera mengerjakan proyek laboratorium karena kegiatan tersebut sudah mendekati batas waktu.
  • Penting dan tidak mendesakYaitu kegiatan yang harus dilaksanakan, tetapi dapat ditunda terlebih dahulu karena kegiatan tersebut bukan merupakan kegiatan yang mendesak untuk dilaksanakan. Misalnya: Mahasiswa IT Telkom merencanakan untuk rekreasi ke Rancau Upas. Rekreasi merupakan hal yang cukup penting untuk mengakrabkan pertemanan dan solidaritas pada sesama anggota kelas. Rekreasi tersebut tidak harus langsung dilaksanakan. Mahasiswa dapat mendikusikannya terlebih dahulu dengan menentukan tanggal keberangkatan dengan memilih tanggal libur atau setelah UAS.
  • Tidak penting dan mendesak                                                                                                               Yaitu kegiatan yang tidak penting tetapi membutuhkan perhatian sesegera mungkin karena bersifat mendesak. Misalnya: Seseorang berada di dalam sebuah rapat, tiba-tiba saja HP nya berdering dan merupakan panggilan dari teman lamanya. Kebanyakan orang tidak tahan bila melihat HP berdering begitu saja. HP yang berdering sifatnya mendesak karena membutuhkan perhatian segera untuk diangkat. Sementara berbicara dan menghabiskan waktu di telepon hanya untuk mengobrol dengan teman lama tersebut termasuk kegiatan yang tidak penting.
  • Tidak penting dan tidak mendesak Yaitu kegiatan yang tidak menunjang misi hidup dan tidak memerlukan perhatian segera. Misalnya menggunakan fasilitas internet di warnet dengan bermain sepanjang waktu. Hal ini termasuk kegiatan yang tidak mendesak dan tidak penting karena selain sebagai kegiatan pemboros waktu juga merupakan pemboros biaya.
4. Berpikir Menang/Menang 

Banyak orang berpikir bahwa dunia merupakan panggung sandiwara dengan segala persaingan yang terjadi. Persaing akan memberikan interupsi untuk selalu mengalahkan pihak yang lain dengan menonjolkan diri sebagai satu-satunya pemenang. Berpikir menang-menang merupakan kerangka pikiran dan hati yang terus mencari keuntungan bersama dalam semua interaksi manusia sebagai kemenangan yang tertinggi.
“Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
5. Mengerti Baru Dimengerti

Kebiasaan ini mengajarkan kepada setiap orang untuk mengerti apa yang dirasakan orang lain. Melalui kebiasaan tersebut, diharapkan setiap orang mampu melatih kematangan emosi dan dapat berfokus dalam pemberian dan pemecahan masalah orang lain. Seperti kata pepatah
“Lakukanlah orang lain seperti bagaimana engkau ingin diperlakukan oleh orang lain”.
6. Wujudkan Sinergi 

Sinergi merupakan bentuk penyatuan hubungan atas bagian-bagian yang berbeda. Contohnya adalah sepasang suami istri yang hidup dalam suatu rumah tangga. Mereka berusaha untuk sinergi dalam menjalani rumah tangga tersebut dengan menghormati perbedaan, membangun kekuatan dan mengimbangi kelemahan pada pasangannya.

7. Asahlah Gergaji

Asah gergaji merupakan kebiasaan dimana setiap orang harus meluangkan waktu sejenak untuk mengasah dan meningkatkan kapasitas dirinya. Contoh: Asisten di laboratorium Analisis Perancangan Kerja IT Telkom sedang mengerjakan proyek untuk membuat kursi duduk nyaman untuk dosen. Mereka tidak langsung mengerjakan proyek tersebut dengan serta merta. Merek berhenti sejenak untuk mempelajari tentang pembuatan kursi yang ergonomis dan membaca buku terkait analisis ergonomi lainnya sehingga dapat meningkatkan kapasitas dan keprofesionalan mereka dalam membuat kursi duduk yang nyaman dan sesuai untuk dosen.

Demikianlah setiap orang berusaha untuk meningkatkan efektivitas pribadi dengan mengubah kebiasaannya sehingga dapat menghasilkan reaksi positif bagi diri dan lingkungannya. Dan semoga pada bulan Ramadhan inipun, kita semua dapat memperbaiki diri menuju pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Oleh : Juli Trisna Aisyah Sinaga, BandungBlog

http://www.fimadani.com/inilah-7-kebiasaan-yang-bisa-lejitkan-potensi-diri/
Lengkapnya Klik DISINI

Hal Yang Disukai Istri Dari Suaminya

Terkadang kita ingin tahu juga, apa yang membuat istri  senang dalam kehidupan berumah-tangga. Berikut ini adalah satu versi rangkaian sikap dan sifat yang disukai seorang istri dari suaminya:

1. Penuh Pengertian
Seorang istri senang diperhatikan dan didengarkan. Ia senang suaminya memahami dan mengerti dirinya. Dalam suka dan dukanya. Dalam ceria dan sedihnya. Ia senang suami mengetahui perasaannya. Ia misalnya senang diberitahu pakaiannya yang mana yang paling disukai suaminya. Atau masakannya yang mana yang paling lezat bagi suaminya. Karenanya obrolan-obrolan ringan dan lembut amat dinanti-nanti seorang istri. Setiap kata yang keluar dari lidah dan bibirnya adalah pesan cinta yang ingin ia sampaikan. Dan ia ingin tahu bagaimana suaminya menanggapi pesan cintanya itu.Tangisan seorang istri itu memiliki sekian banyak makna, bisa karena sedih, bisa karena marah, bisa karena terharu dan bahagia. Ia senang jika suaminya bersabar untuk mengenal setiap jenis air mata yang metetes dari matanya.Pengertian ini menjadi inti dan landasan segala sikap menyenangkan yang mungkin dilakukan seorang suami terhadap istrinya.
 
2. Setia
Kesetiaan adalah syarat utama cinta sejati. Seorang istri ingin cinta suami itu hanya untuknya. Karenanya kecemburuan adalah bagian dari cinta. Sapaan sayang di tengah kesibukan, walaupun hanya satu dua menit kata-kata yang disampaikan lewat telepon, walaupun hanya satu dua kalimat SMS, akan menjadi pengokoh kepercayaan. Hadiah yang diberikan: martabak kesukaannya, seikat bunga, atau sebuah jam tangan yang manis akan menguatkan cinta. Dan mengingat hari ulang tahun serta hari pernikahan akan menjadi bukti kesetiaan suami yang disukai seorang istri.Tapi seorang istri yang baik akan mengatakan, “Jangan karena takut kepadaku, kakanda bersikap setia. Karena Allah Maha Melihat. Itu yang mesti menjadi landasan kesetiaan.”
 
3. Sabar dan Pemaaf
Seorang istri akan amat bersyukur jika suaminya mau menerima dirinya apa adanya. Suaminya mampu memaafkan dan bersabar atas kekurangan yang ada pada dirinya. Ia butuh waktu untuk membina dirinya. Ia bahkan butuh waktu untuk memahami dirinya sendiri, ketika satu ketika ia tidak menjadi dirinya sendiri.Seorang istri perlu mendapatkan nasihat, akan tetapi itu dilakukan dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.
Ini seperti pesan Ilahi: “Kemudian keadaan orang beriman itu adalah saling menasihati dalam kesabaran dan dalam kasih sayang.” (QS. al-Balad); “Dan jika kalian memaafkan, tidak memarahi, dan mengampuni mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS. at-Taghabun)
 
4. Teguh Hati dan Bersemangat
Seorang istri senang melihat suaminya senantiasa berteguh hati dan bersemangat dalam menyelesaikan berbagai tugas dan amanah. Ia senang suaminya dapat senantiasa prima menunaikan tugas-tugas di luar rumah dan sekaligus membantu menyelesaikan permasalahan di rumah. Karenanya seorang istri senang melihat suaminya akrab bercengkrama, bermain dengan anak-anaknya. Dan saat suami sesekali memasak untuk keluarga, ada sentuhan hangat menyentuh relung jiwa seorang istri.Bagaimana jika suaminya berada dalam kondisi bete atau kehilangan semangat? Seorang istri akan menerima keadaan ini asalkan ia melihat suaminya berusaha keras untuk melepaskan diri dari keadaan lemah ini. Ia bahkan akan memberikan bantuan dan doa terbaik bagi suaminya.
 
5. Romantis
Seorang istri senang jika suaminya mampu memperlihatkan dan mengekspresikan cinta dan kasih sayang. Ia senang mendapati suaminya membangun suasana kondusif kasih sayang di rumah. Ia senang jika suaminya romantis.Diantara ungkapan cinta suami-istri adalah dalam hubungan intim. Seorang istri senang jika suaminya memberikan kesenangan dan kepuasan pada salah satu kebutuhan cinta ini. Ia akan terbuka menyampaikan apa yang ia sukai, ketika suaminya mampu membuka percakapan dalam masalah ini secara tepat dan penuh kelembutan (tenderly).
 
6. Rapi dan Wangi
Seorang istri suka suaminya rapi. Rapi menata rambut dan rapi berpakaian, bahkan dalam suasana santai. Kerapian yang disukai adalah kerapian yang alami dan melekat dalam kehidupan suami.Sikap suami yang kooperatif dalam menjaga kerapian rumah juga disukai seorang istri. Karenanya ketika seorang suami berinisiatif menyapu ruang tengah, membersihkan kompor di dapur, atau membersihkan kamar tidur dengan membongkar tempat tidur secara rutin … pada semuanya ada apresiasi dari seorang istri.Rapi, bersih dan wangi pada seorang suami membuat istrinya senang. Seorang suami bisa meminta istrinya memilihkan minyak wangi baginya. Ia akan terbantu menyempurnakan penampilan bagi istrinya.
 
7. Ceria dan Ramah
Senyum ceria dan keramahan amat dihajatkan seorang istri. Senyum dan keramahan itu laksana angin sejuk di tengah berbagai kelelahan dirinya. Berbagai kesibukan membuat jiwanya lelah. Interaksi dengan anak-anak di rumah itu bukan pekerjaan ringan. Segenap potensi kejiwaan dan pikiran mesti ia curahkan. Kelelahan fisik pun tidak ringan. Perhatikanlah, ia mesti terus memperhatikan anaknya yang terus bergerak kesana kemari, bereksplorasi ketika mulai bisa merangkak. Dan saat si anak lelah tertidur, ia mesti bersiap-siap memasak dan merapikan rumah bagi suaminya yang sebentar lagi pulang …Senyum dan sapaan sayang suami akan menjadi hiburan jiwa bagi sang istri. Sikap humoris juga amat membantu seorang istri untuk selalu menjaga suasana riang hatinya. Ini semua akan membantunya untuk terus bersabar dan ikhlas dalam menunaikan tugas-tugasnya.
 
8. Menjadi Pemimpin yang Melindungi
Istri membutuhkan perlindungan yang membuatnya senantiasa merasa tentram. Karenanya ia menyukai sifat kepemimpinan pada suaminya. Kepemimpinan yang ia harapkan adalah yang senantiasa menentramkan jiwanya, mengokohkan ruhaninya, memberikan pencerahan demi pencerahan pada akalnya dan membantu menjaga kebugaran dan kesehatan tubuhnya.
 
Kepemimpinan yang ia sukai adalah yang memadukan ketegasan dan kelembutan. Yang menebarkan cinta, bukan membuat takut. Yang mengedepankan kemauan baik, bukan senantiasa menggunakan otoritas (misalnya dengan selalu menggunakan kalimat “suami kan pemimpin rumah tangga, jadi mesti taat donk”). Yang betul-betul menjadi pemimpin, bukan menjadi boss.
 
*)http://pribadimanfaat.blogspot.com/2013/07/hal-yang-disukai-istri-dari-suaminya.html#
Lengkapnya Klik DISINI

Bai Fang Li | Tukang Becak yang Berhati Mulia

Namanya BAI FANG LI. Pekerjaannya adalah seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya. Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk beribadah. Dia melalang dijalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringatbercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.
Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak. Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana ia biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, di ruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, di ruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel dan ada sebuah tempat minum dari kaleng. Dipojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.

Bai Fang Li tinggal sendirian digubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong. Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.

Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.

Ceritanya dimulai saat hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan menggendong beban berat dipundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar dimukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu. Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ketempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu kemulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga. Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.
 
“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya” jawab anak itu. “Orang tuamu di mana?” tanya Bai Fang Li. “Saya tidak tahu, ayah ibu saya pemulung. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil” sahut anak itu. Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping. Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu yang tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.
Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak. Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan pembeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, ditengah cuaca dingin atau dalam panas matahari yang sangat menyengat tubuh kurusnya.

“Tidak apa-apa saya menderita, yang pentingg biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri. Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.

Bai Fang Li berkata “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan” katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu menangis.

Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000 (kurs 1300, kurang lebih setara 455 juta rupiah) yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin. Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya yang bertuliskan ” Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa”.

Sumber:
spicaku.blogspot.com
Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......