Assalamu Alaikum, Selamat datang Saudaraku. Semoga BLOG ini bermanfaat dan harapan kami agar Anda sering datang berkunjung. Wassalam. ==> YAHYA AYYASY <==

Kumpulan Kata-Kata Semangat Penuh Motivasi

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

kata-kata semangat penuh motivasi
Dalam menjalani kehidupan, pastinya kita tidak selamanya berada dalam kondisi yang menyenangkan. Adakalanya kita terjatuh dan ada kalanya kita juga harus bangkit kembali untuk menatap masa depan yang lebih baik.

Tapi terkadang banyak dari kita saat tengah mengalami cobaan yang berat, seakan-akan dunia berakhir pada saat itu juga. Padahal apabila kita tahu, salah satu ujian yang ada adalah semata-mata untuk menaikkan derajat kita di mata Sang Pencipta.

Nah bagi kalian yang mungkin saat ini sedang bersedih atau sedang dalam posisi di bawah, mungkin beberapa kata-kata semangat yang akan kami berikan ini setidaknya bisa mengembalikan semangat yang kalian miliki. Namun hal yang paling penting dari semua ini adalah kemauan diri untuk kembali bangkit dari kesedihan.

Memulai Hari Dengan Senyuman


awali hari dengan tersenyum
tubgit.com
 “Mulailah setiap hari dengan senyuman dan akhiri dengan senyuman” . (C. Field)
Jadi makna yang terkandung dari kata-kata motivasi di atas menjelaskan bahwa sebaiknya kita itu memulai hari dengan sebuah senyuman dan mengakhiri hari juga dengan senyuman. Adapun manfaat dari tersenyum sendiri bisa membuat kita lebih bahagia dalam mensyukuri nikmat, selain itu dengan kita bersenyum maka pastinya kita juga akan lebih bersemangat dalam menjalani hari.

Akan Ada Hasil Dari Sebuah Perjuangan


hasil dari sebuah usaha
wordsout.co.uk
“Usaha akan membuahkan hasil setelah seseorang tidak menyerah”. (Napolen Hill)
Terkadang kita merasa lelah dan putus asa akan sebuah hasil yang tidak kunjung terlihat meskipun sudah melakukan berbagai macam usaha. Padahal apabila kita meyakininya, saat kita memutuskan menyerah bisa jadi saat itu kita sudah sangat dekat dengan keberhasilan. Untuk itu kata-kata motivasi seperti di atas diharapkan bisa menggugah kembali semangat dan meyakini bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati sebuah usaha.

Masa Depanmu Ditentukan Sekarang


masa depanmu ditentukan sekarang
caramudahbelajarbahasainggris.net

“Masa depanmu ditentukan dari apa yang kamu lakukan sekarang, bukan yang kemarin”
Apabila kita ingin menatap masa depan yang lebih baik, maka mulai dari sekarang kita harus melakukan hal-hal yang berguna yang bisa mengantarkan kita pada puncak kesuksesan. Jadi bukan malah sibuk membicarakan kesuksesan kita di masa lalu sementara saat ini kita tidak melakukan apa-apa.

Dengan Keyakinan Kita Mampu Melakukan Semua Hal


yakin melakukan semua hal
http://wagsredefined.com

Ada kata bijak mengatakan :
“Dengan keyakinan kita dapat memindahkan gunung, akan tetapi tanpa persiapan kita dapat tersandung oleh kerikil”
Maksudnya apabila kita mempunyai sebuah keyakinan yang kuat akan suatu hal, maka dengan ijin Tuhan semuanya pasti bisa didapatkan. Akan tetapi semua itu harus dibarengi dengan sebuah persiapan yang matang. Jangan sampai kita hanya memiliki keyakinan namun tanpa melakukan persiapan sama sekali.

Hadapi Rintangan Untuk Mencapai Kesuksesan


hadapi rintangan
euroscientist.com
“Semua orang akan menghadapi rintangan, termasuk mereka yang sudah sukses saat ini. Bedanya, orang yang sukses mampu mengatasi semua rintangan”
Jadi satu hal yang membedakan orang sukses dan orang yang gagal. Jika orang sukses mereka memiliki semangat untuk menghadapi semua rintangan, sementara orang gagal adalah mereka yang menyerah saat mendapati rintangan.

Kita Pasti Mampu


pasti mampu menghadapi apapun
sipenyuluh.blogspot.com
“Jangan dulu mengatakan tidak mampu sebelum anda berusaha menjadikan diri anda mampu”
Mungkin kita sering mengatakan tidak mampu, padahal kita sendiri belum mencobanya. Nah, kebiasaan seperti itu sebaiknya tidak kita lakukan karena bagaimanapun juga mampu atau tidaknya seseorang akan terlihat jika mereka sudah berusaha semaksimal mungkin.
Selain itu dengan kita berusaha untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik, maka bukan tidak mungkin lagi kita mampu melakukan banyak hal.

Berani Mengakui Kesalahan


berani mengakui kesalahan
zetizen.com
Berani Akui Kesalahan Diri dan Siap Lakukan Perbaikan
Bersikaplah sebagai ksatria dalam menghadapi berbagai masalah, sesulit apapun itu. Bersembunyi dibalik masalah hanyalah menjadikan kita sebagai pengecut yang selalu kalah dalam berperang melawan kehidupan.
Akuilah kesalahan-kesalahan yang telah lalu, taubat belum terlambat. Ada Ulama’ Salafus Shalih mengatakan: “Taubat dari dosa itu wajib hukumnya, tapi yang lebih wajib lagi adalah menjauhi dosa”.
Berani mengakui kesalahan diri dan siap melakukan perbaikan bisa juga disebut sebagai taubat. Taubat artinya kembali ketujuan awal, kembali ke orientasi hakiki, kembali kejalan yang telah digariskan kepada kita. Yaitu kita lahir dalam keadaan fitrah yang suci. Maka taubat adalah kembali menuju fitrah yang suci.
Orang yang kembali adalah seorang pemberani. Berani mengakui kesalahan, berani melakukan perubahan, berani merintis kebaikan, dan berani memelopori kesuksesan diri. Sebagaimana sabda nabi: “Setiap anak Adam pasti memiliki salah, dan sebaik-baik yang bersalah adalah yang mau bertaubat”.
Setelah mengakui kesalahan diri, bersiaplah untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Jangan menunda-nunda amal baik lagi. Karena dalam setiap waktu pasti ada kewajiban dan tanggungan yang harus diselesaikan.
“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkal lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadanya”.(QS. Ali Imran: 159)
Kebanyakan penyakit manusia pada umunya adalah menunda amal. Mulailah berkomitmen dari sekarang. Sebelum layar berkembang pantang surut dan sebelum mencapai puncak pendakian pantang turun.
Jika lemah semangat menghampirimu, lakukanlah kreasi dengan mencari reaksi untuk merubah mood dalam dirimu.
Seseorang bisa tertawa karena adanya suatu reaksi berupa melakukan atau merasakan hal-hal yang menyenangkan, sesorang yang menangis pun sama, dia menangis karena adanya reaksi berupa mearasakan atau melakukan hal-hal yang membuatnya terluka.
Maka carilah reaksi untuk membuat semangat. Misalnya dengan menonton film motivasi, hal ini akan membangkitkan semangatmu yang lemah. Berkumpul dengan orang-orang pandai, hal ini juga akan menarik dan memacu semangat kita untuk bisa seperti mereka.
Mulailah dengarkan musik-musik yang memacu semangat, misalnya musik beraliran rock, metal, atau pop yang bergenre tinggi. Karena hal ini berkaitan dengan psikologi yang dapat membuat kita lebih semangat dan memacu kinerja kita lebih cekatan.
Intinya, lakukanlah sesuatu maka kamu akan mendapatkan reaksi.

Jadilah Orang yang Berprinsip


kata-kata-semngat
“Aku ridho Allah sebagai Tuhanku, Muhammad sebagai Nabiku, dan Islam sebagai Agamaku”
Itulah prinsip yang harus dipegang oleh setiap umat muslim di dunia. Jika kita lihat berita di TV, banyak sekali kasus-kasus yang memprihatinkan. Ada seorang siswi SMP yang dipaksa melayani nafsu bejat gurunya sendiri, dengan ancaman jika tidak mau tidak akan diberi nilai/tidak dinaikkan kelas.

Sebenarnya banyak kasus serupa dengan menggunakan modus yang sama, yaitu ANCAMAN, kebanyakan dari mereka menjadi korban karena takut dengan ancaman-ancaman yang sebenarnya tidak mengancam. Mereka takut dengan ancamannya karena tidak berprinsip, atau berprinsip tapi keliru.

Marilah berprinsip yang benar, keluar dari segala ancaman yang menekan kita,
“Biarlah aku tidak naik kelas asalkan Allah masih menjadi Tuhanku, Muhammad Masih menjadi Nabiku, dan Islam masih menjadi Agamaku”.
“Biarlah aku tidak lulus sekolah, asalkan Allah masih menjadi Tuhanku, Muhammad masih menjadi Nabiku, dan Islam masih menjadi Agamaku”.
“Seberapa besar ancamanmu padaku aku tidak takut, selagi Allah masih menjadi Tuhanku, Muhammad masih menjadi Nabiku, dan Islam masih menjadi Agamaku”.
Dengan menanamkan prinsip tersebut, kita akan menjadi manusia yang tak terkalahkan. Cukup tiga prinsip itu yang menjadi sandaran kita dalam kehidupan, bahkan kita perlu mempertaruhkan  nyawa jika ada yang mengancam tiga prinsip tersebut, bukan justru mengalah dan menyerahkan.

Jadilah Dirimu Sendiri


www.pexels.com
www.pexels.com
“Keistimewaan dari sebuah kehidupan adalah menjadi dirimu sendiri” (Joseph Campbell)
Apakah anda pernah kehilangan jati diri anda yang sesungguhnya? Biasanya saat kita berada pada lingkungan baru, kita akan berusaha menjadi orang yang berbeda supaya orang lain menyukai kita. Padahal dengan berusaha menjadi orang lain akan membuat kita tidak bisa menikmati hidup sehingga keistimewaan dari sebuah kehidupan akan hilang, seperti yang dikatakan oleh Joseph Campbell.

Lalu bagaimana cara agar kita bisa menjadi diri sendiri? Salah satu penyebab yang paling banyak terjadi adalah karena kita membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Dengan begitu kita berusaha untuk menjadi seperti atau lebih baik dari orang sehingga kita tidak menjadi diri sendiri. Padahal setiap orang mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Tingkatkan kelebihan yang anda miliki dan jadilah diri anda sendiri.

Orang Sukses Selalu Belajar dan Mencoba


www.pexels.com
www.pexels.com

“Orang sukses akan mengambil keuntungan dari kesalahan dan mencoba lagi dengan cara yang berbeda” (Dale Carnegie)

Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Kegagalan adalah sebuah keuntungan. Saat kita gagal, berarti kita telah diberi waktu untuk belajar.

Saat kita gagal melakukan sesuatu melalui sebuah cara, maka cari cara yang berbeda untuk mencapai keberhasilan, apabila belum sukses maka gunakan cara lain lagi sampai anda mencapai keberhasilan tersebut.

Ingatlah kata-kata berikut ini
“Kegilaan: Melakukan hal yang sama secara terus-menerus dan mengharapkan hasil yang berbeda” (Albert Einstein)
Tidak ada di antara kita yang ingin disebut orang gila, namun kita secara tidak sadar melakukan hal yang sama secara terus menerus dan mengharapkan hasil yang berbeda. Apabila anda ingin hasil yang berbeda maka gunakan pula cara yang berbeda.

Waktu Tidak Akan Menunggu Anda


waktu tidak akan menunggumu
erpitawulandari.wordpress.com
“Anda mungkin bisa menunda, tapi waktu tidak akan bisa menunggu” (Benjamin Franklin)
Salah satu ciri dari orang sukses adalah selalu ingin untuk terus bergerak karena mereka tahu bahwa waktu juga terus bergerak dan menunggu akan menjadi pekerjaan yang sia-sia.

Seperti prinsip yang dimiliki oleh orang Jepang, menunda pekerjaan sama saja dengan menambah pekerjaan. Karena menunda pekerjaan akan membuat waktu yang ada terbuang dan batas waktu dari pekerjaan tersebut semakin sedikit. Itulah sebabnya menunda pekerjaan sama saja menambah pekerjaan

Inovasi Itu Pergerakan


inovasi adalah pergerakan
findonews.com
“Inovasi adalah pergerakan yang sangat cepat” (Bill Gates)
Tidak cukup apabila kita hanya bergerak saja dalam hidup ini. Kita juga harus mengukur pergerakan apa yang kita lakukan. Dengan inovasi, berarti kita bergerak cepat sehingga orang lain akan sulit mengejar kita.

Dalam sebuah perusahaan pun harus ada inovasi walaupun perusahaan itu sudah menjadi besar. Pelanggan selalu menunggu inovasi dari perusahaan-perusahaan yang diikutinya. Tanpa inovasi, sebuah perusahaan akan terlihat monoton dan satu-persatu pelanggan akan pindah ke produk dari perusahaan lain.

Sudah banyak sekali contoh perusahaan besar, bahkan bisa dibilang sangat besar menjadi hancur karena tidak adanya inovasi pada produk-produk yang mereka miliki. Mereka tidak mengikuti perkembangan yang ada pada perilaku konsumen dan tetap percaya bahwa produk mereka akan tetap banyak dicari. Alhasil, yang terjadi pada mereka adalah sebuah kehancuran.

Contohnya adalah salah satu perusahaan yang dulu menjadi perusahaan yang sangat besar bahkan menguasai pasar ponsel di seluruh dunia. Ya, perusahaan tersebut adalah Nokia. Dulu, orang tidak dikatakan keren apabila tidak menggunakan nokia. Namun sekarang  justru sebaliknya, orang yang menggunakan ponsel Nokia tidak lagi dianggap keren bahkan mungkin sudah dianggap ketinggalan jaman.

Bersenang-Senanglah Dalam Pekerjaan Anda


bersenang dalam pekerjaan
tv14.my
“Kesenangan dalam sebuah pekerjaan membuat kesempurnaan pada hasil yang dicapai”, Aristoteles.
Bagi kalian sang pejuang hidup, bersemangatlah dalam mengerjakan tugasmu  hari ini. Abaikan segala macam ucapan negative tentang anda, kesuksesan anda tidak bergantung di tangan orang lain.
Fokus dan berbahagialah dalam perkerjaan kalian. Hanya dengan berbahagia, kalian akan mendapatkan hasil yang kalian impikan.  Disaat kita senang dengan perkerjaan kita, kita tidak akan merasakan itu sebagai beban dan akan dengan mudah dan sempurna kita keselesaikan.

Berfokus Pada Tujuan


bekerja dengan tulus
albalum.wordpress.com
“Yang membuatku terus berkembang adalah tujuan-tujuan hidupku”, Muhammad Ali.
Satu hal yang perlu kalian pastikan, jangan sampai hari ini hanya mengalir tanpa tahu apa tujuan kalian hari ini. Tanpa tujuan, hari kalian hanya akan menjadi sia-sia dan tidak terkontrol. Kalian harus memiliki tujuan untuk mengontrol apa yang akan kalian lakukan setiap harinya.

Lakukan setiap tugas atau hal yang kalian lakukan dengan kebahagiaan. Fokus, bertekad dan berdoa agar segala yang kalian lakukan diperlancar dan dimudahkan. Fokus pada tujuan dan jangan mudah terganggu dengan hal-hal yang tidak penting.

Buat Setiap Hari Bermakna


buat setiap hari bermakna
huffpost.com
“Anda harus melalui hari ini dengan irama. Biarkan seluruh kehidupanmu berirama seperti lagu”,  Sai Baba
Disaat kalian telah menetapkan tujuan hari ini, yakinlah untuk menikmatinya. Segalanya pasti akan menjadi baik dan bermakna. Jalani hidup layaknya irama lagu yang kalian nikmat. Tekadang banyak hal yang mengganggu atau tidak bersahabat, namu yakinlah hal tersebut merupakan bagian dari irama yang harus kalian nikmati.

Hidup akan lebih bermakna ketika kalian mengalamai banyak hal. Jangan pernah mengeluh, karena segala hal pasti ada hikmahnya dan pasti baik bagi kalian.

Jangan Pernah Berkata “Mungkin”


jangan berkata mungkin
deviantart.net
“Saya tidak berbicara dengan kata mungkin”, Abdurahman Wahid
Pesrsiapkan harimu dan Janganlah mulai hari dengan keraguan. Jangan katakan mungkin namun ganti dengan saya bisa melakukannya. Kata mungkin merupakan tanda ketidakyakinan, mulailah hari dengan sugesti diri penuh keyakinan dengan mengatakan “Aku Bisa”.

Disaat kita telah merasa yakin dan optimis, maka segala macam haling rintangan akan kita hadapi hingga kita bisa menyelesaikannya. Namun apabila kita sudah pesimis dari awal, segala macam tantangan akan menjadi alasan kegagalan.

Lakukan Dan Bekerjalah Dengan Ketulusan


bekerja dengan tulus
afif1.wordpress.com
“Sekali anda mengerjakan sesuatu, jangan takut gagal dan jangan tinggalkan itu. Orang-orang yang bekerja dengan ketulusan hati adalah mereka yang paling bahagia”, Chanakya
Kesalahan dan kegagalan adalah sebuah hal yang wajar. Dengan hal tersebut, kita akan belajar dan menjadi lebih baik. Ambil pelajaran dari kesalahan dan kegagalan yang kalian lakukan, dan lakukan hal yang lebih baik.

Disaat kita belajar dari kesalahan, tanpa sengaja hal tersebut akan membentuk diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Selain itu, bekerja bukan hanya untuk hal materi, namun untuk kebahagiaan . Disaat kita dapat belajar  menjadi lebih baik dan melakukan kesenangan dala perkerjaan, tentu itu merupakan kebahagiaan yang harus kalian syukuri

Kesempatan Muncul Dalam Tantangan


hadapi tantangan
rudylim.com
“Kesempatan untuk menemukan kekuatan yang lebih baik dalam diri kita muncul ketika hidup terlihat sangat menantang“, Joseph Campbell
Disaat kalian berada dalam masalah atau tantangan, janganlah mengeluh dan putus asa! Carilah jalan keluar dan jadikan tantangan tersebut sebagai tahapan untuk membuktikan diri dan belajar.  Disaat kita berhasil menaklukan tantangan yang belum pernah kalian lakukan, maka itu akan menjadi guru terbaik dalam peningkatan diri kalian.
Lengkapnya Klik DISINI

Jika Allah Telah Memilihkan Jodohmu..

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Ilustrasi. (arinarizkia.wordpress.com)
Ilustrasi. (arinarizkia.wordpress.com)
Setelah mengikuti acara bedah buku “Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan” bersama penulisnya Ustadz Salim A Fillah. Sungguh luar biasa, kita mampu memaknai apa yang telah direncanakan Allah untuk kita.

“Saat kita ditanya, kapan nikah?” maka jawablah ,”Saya sedang mempersiapkan bekal ketaqwaan untuk bertemu jodoh saya nanti,” kata ustadz Salim.

Karena untuk melangkah menuju pernikahan itu harus disiapkan secara matang. Harus siap secara moral, spiritual, konsepsional, fisik, sosial dan material. Mental dan spiritualnya mantap jika niat dan langkahnya menuju pernikahan itu memang telah benar. Mampu mengatasi segala risiko dan keraguan saat akan menikah juga menghadapi saat-saat nanti setelah menikah.

Bisa membaca ulang kisah para nabiyullah, para sahabat/sahabiyah, para ulama dan orang-orang shalih saat menjemput jodohnya. Yaitu dengan mendekatkan dan semakin dekat dengan Tuhannya.

Seorang Khadijah binti khuwailid adalah wanita yang baik hubungan dengan Tuhannya, terjaga izzah (kehormatannya) dan terkenal kebaikannya. Memang layak untuk membersamai Muhammad. Lelaki yang hampir sempurna di hadapan Allah dan manusia. Hingga Khadijah pun menjadi orang pertama yang mengimani bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Dan dialah Khadijah wanita istimewa yang pernah mendapat salam dari Allah dan malaikat Jibril karena kemuliaannya.

Ada seorang perempuan yang terjaga mata, telinga dan kakinya bahkan dirinya dari hal-hal yang tidak memiliki manfaat untuknya dan agamanya. Maka dialah yang disandingkan Allah bersama seorang lelaki yang terjaga ‘izzahnya. terbukti saat di ketemu sebuah apel hanyut di sungai, dengan kondisi sangat lapar. Dia masih mencari orang yang dapat menghalalkan buah itu untuk dimakannya. Mencari si pemilik apel itu. Dan mereka adalah orang tua dari salah seorang imam besar. Yaitu imam Syafi’i

Maka membacalah dan pelajarilah cara mereka menjemput jodohnya. Sesuci cinta Fatimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib menjaga hatinya hingga setan pun sampai tidak mampu mengelabuhi mereka.
Masya Allah..

Pada saat ini di ujung zaman masih adakah orang-orang seperti itu?
Jawabnya ada. Masih ada mereka yang ingin menjemput jodohnya dengan jalan menjaga dirinya, menjaga hubungan mesranya dengan Allah Sang Pemilik dirinya. Hingga amalan sunnah itu hampir menjadi wajib baginya. Karena keistiqamahannya menjaga amalan yang ingin dipersembahkan kepada Tuhannya.

Shalat sunnahnya dia jaga. Puasa sunnahnya rutin dia lakukan di antaranya puasa sunnah Senin kamis, puasa ayyamul bidh (puasa tengah bulan), atau puasa Daud (sehari puasa dan sehari tidak). Dzikirnya, wudhunya, tilawahnya dan amalan-amalan kebaikan yang selalu dia dawwamkan. Rutin dia lakukan, untuk mengharap ridha dan kebaikan dari Tuhannya.

Dan ternyata cara kita memperoleh anak yang baik itu juga dilihat dari cara kita menjemput jodoh. Bagaimana tidak? Jika kita pikirkan saat bibit itu tumbuh di tanah yang baik dan dari keturunan orang yang baik, maka akan memudahkan kita merawat tanaman itu untuk menjadi baik.
Nasehat Ustadz Salim saat itu, apabila kita mencari jodoh carilah:
  • Orang yang mesra hubungannya dengan Allah. Karena jika dengan Tuhannya saja tidak mesra, bagaimana dia akan baik hubungannya kelak dengan pasangan?
  • Orang yang hormat dan patuh kepada orang tuanya, karena dengan begitu dia akan tahu cara menempatkan diri
  • Orang yang baik terhadap teman sebayanya, karena baik tidaknya saat bersama temannya akan menjadi cerminan baik tidaknya dengan kawan hidupnya kelak
  • Orang yang baik terhadap adik atau yang usianya ada di bawah dia. Itu sebagai cerminan dia
Rumah tangga islami harus mempunyai niat untuk beribadah kepada Allah. Dengan proses dan tata cara perjodohan yang sesuai dengan syariat yang benar.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)

Dan dalam beragama kita tidak boleh mengambil sesuatu hanya dalam sepenggal saja tetapi harus menyeluruh. Karena Islam itu sangatlah sempurna mengatur segala sisi kehidupan manusia. Bukan hanya untuk bekal akhiratnya, tetapi bekal untuk menghadapi kehidupan dunia juga banyak pelajaran dan aturan yang bisa diambil dari kitab suci Allah.

“Hai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhannya, dan jangan kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208)
Izinkan saya (penulis) menceritakan saat-saat Allah mempertemukan jodoh. Kala itu jelang kepulangan saya ke kampung halaman berniat untuk melanjutkan studi dan melepas pekerjaan di perantauan demi hijrah melanjutkan misi mewujudkan cita-cita. Doa yang selalu terpanjat kepada Allah, meminta agar Allah tunjukkan jalan hidup yang terbaik. Jika memang harus menikah saat itu memohon agar diberikan jodoh yang mampu mendukung dalam ketaatan kepada Allah serta baik untuk urusan dunia akhiratku. Dan jika memang harus bekerja lagi atau harus lanjut kuliah lagi, semoga Allah berikan yang terbaik dan kemudahan segala urusanku. Doa itu selalu terpanjat indah serta selalu menjaga dan berusaha agar diri ini terus menjadi lebih baik. Qadarullah, saat jelang hari H mendapat tamu seorang lelaki bersama salah seorang ustadz yang ada di pesantren tempat saya pernah belajar di sana. Lelaki itu memang tidak terlalu saya kenal, dia salah satu yang ikut aktif dalam pesantren tempat yang sama untuk mengaji ilmu Allah.

Allah ternyata sedang merencanakan lain dari yang saya rencanakan, ta’aruf itu sempat menjadikan pikiran ini bimbang tak menentu untuk melanjutkan misi belajar atau harus menerima yang telah digariskan Allah. Setelah mengadu kepada Dzat yang memiliki diri ini juga berbincang dengan keluarga dan para guru ngaji akhirnya diputuskan untuk melanjutkan proses perjodohan itu dan menunda proses melanjutkan belajar.

Sampai akhirnya proses perjodohan itu berlangsung hingga sebulan kemudian menginjak pada proses khitbah, saat itu juga kami dihadapkan pada tantangan. Singkat cerita calon suami yang telah bekerja di negeri jiran sana mendapat peluang untuk belajar melanjutkan studi S2 dengan beasiswa dari pemerintah sana. Jika dihitung beasiswa itu minim untuk biaya belajar dan kelangsungan hidup. Saat itu kami ditanya apakah mau lanjut proses atau harus berhenti dengan kondisi itu? Alhamdulillah Allah memberikan kami kekuatan hingga keputusan lanjut proses itu kami mantapkan. Karena keyakinan rizki dan semua yang ada dalam kehidupan ini hanya Allah yang mampu mengatur dan pasti Allah Mahatahu atas segala yang ada pada hamba-Nya.

Alhamdulillah semua telah digariskan dan telah tertulis rapi dalam skenario Allah. Semuanya sangat indah dan rapi, sesuatu yang halal dan telah direstui Allah itu sangat dalam termakna dalam hati dan jiwa.

Benarlah janji Allah saat kita berusaha untuk baik di hadapan-Nya, maka Allah juga akan memberikan kita pasangan yang terbaik dunia dan akhirat. Adapun secara pandangan mata duniawi pasangan kita itu boleh dikatakan “tidak berkepribadian” … Seperti rumah pribadi, mobil pribadi, pesawat pribadi. Hehe..

“Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji pula. Dan perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik(pula)…” (An-Nur: 26)

Allah memberikan pasangan yang shalih dalam urusan dunia akhiratnya inilah yang terbaik menurut Allah. Lihatlah bahwa kita juga bukan manusia sempurna, maka jika ada ketidaksempurnaan dalam diri pasangan kita itu wajar. Kita dipersatukan karena untuk saling menyempurnakan dan saling mendukung dalam kebaikan. Kalau kita menunggu yang sempurna. Hehe.. mohon maaf kita pun belum pernah sempurna apalagi di hadapan Allah.

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu, lebih banyak dari yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa: 32)

Rumah tangga yang dicinta Allah itu karena semua telah dilalui prosesnya sesuai syariatnya. Yang di dalamnya ditegakkan adab-adab Islam, berdiri atas dasar ibadah. Bertemu dan berkumpul, melakukan segala sesuatu tak luput dari niat melakukan semuanya untuk dan karena Allah. Maka Allah akan karuniakan rasa sakinah (tenang), mawaddah (penuh cinta) dan rahmah (kasih sayang). Maka rumah tangga itu selaksa surga sebelum surga yang sebenarnya.

*** Tulisan ini dipetik dari bedah buku Nikmatnya pacaran setelah pernikahan oleh Ustadz Salim A. Fillah dan dari buku-buku serta pengalaman penulis. sumber.


Lengkapnya Klik DISINI

Seperti Abu Bakar dan Umar

UmarPemimpin teladan sepanjang zaman setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhuma. Rasanya hingga hari ini—setelah Utsman dan Ali juga selain Umar bin Abdul Aziz—belum pernah muncul kembali pemimpin yang mirip dengan mereka berdua, wallahu a’lam. Maka sudah selayaknya bagi para politisi muslim mengambil teladan dari dua pemimipin yang mulia ini.
Sekelumit Karakter Mulia Sang Khalifah Rasulullah

Kokoh dan Teguh Pendirian

Abu Bakar adalah seorang yang kokoh jiwanya. Lihatlah bagaimana beliau menjadi orang yang terdepan menenangkan umat Islam pada hari wafatnya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

Beliau pun adalah seorang yang teguh pendirian dengan dalil-dalil yang kuat. Ia pernah berselisih pendapat dengan para sahabat yang lainnya tentang tindakan yang harus dilakukan kepada orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Perkataannya yang terkenal yang menunjukkan keteguhannya adalah, “Demi Allah, akau akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat. Demi Allah, kalau sekiranya mereka tidak mau memberikan anak kambing yang merek berikan kepada Rasulullah, maka pasti aku akan memerangi mereka karena penolakan mereka.”

Faqih dan Selalu Berpegang Teguh Kepada Al-Qur’an dan Sunnah

Syeikh Abu Ishaq menjadikan perkataan Abu Bakar di atas sebagai bukti bahwa Abu Bakar adalah sahabat yang paling tahu agama karena semua sahabat saat itu tidak memahami hukum masalah tersebut. Setelah Abu Bakar menjelaskan, akhirnya mereka menyadari bahwa pendapat Abu Bakar yang benar sehingga mereka pun mengambil pendapat Abu Bakar.

Ya, Abu Bakar adalah pribadi muslim yang cerdas berwawasan. Ia senantiasa berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunnah. Sesungguhnya jika ada satu permasalahan yang diajukan kepada Abu Bakar dan dia tidak mendapatkan di dalam Kitab Allah dan Sunnah, Abu Bakar akan mengatakan, “Aku akan berijtihad dengan menggunakan kemampuan akalku. Apabila hal itu benar maka itu dari Allah, jika salah, maka itu berasal dari kelemahanku dan aku memohon ampun kepada Allah.”

Maimun bin Muhram berkata, “Apabila Abu Bakar menemukan suatu perselisihan atau perbedaan pendapat maka dia melihat hukumnya di dalam Al-Qur’an. Jika dia menemukan hukumnya di dalam Al-Qur’an, dia memutuskan hukumnya dengan Al-Qur’an. Akan tetapi, jika dia tidak menemukan hukumnya di dalam Al-Qur’an dan dia mengetahui hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tentang masalah tersebut maka dia akan memutuskan dengan hadits Rasulullah. Apabila tidak mendapatkannya dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, dia akan bertanya kepada umat Islam, ‘Seseorang telah dating kepadaku dan menanyakan demikian dan demikian. Apakah ada diantara kalian yang mengetahui bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam pernah memutuskan perkara ini?”’

Fasih

Ibnu Katsir berkata, “Abu Bakar adalah orang yang paling fasih bahasanya dan paling piawai berkhutbah. Zubair bin Bakkar berkata, ‘Aku mendengar seorang ulama berkata, ‘Orang yang paling fasih dalam berkhutbah di antara para sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam adalah Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib.’”

Lembut Hatinya

Selain kokoh jiwanya, teguh pendiriannya, cerdas berwawasan, disiplin memegang hukum Allah, dan fasih bahasanya, Abu Bakar juga dikenal lembut hatinya sehingga ia diberi gelar Al-Awwah, yang menurut Ibrahim An-Nakh’i artinya adalah ‘orang yang sering berkeluh kesah lantaran rasa iba dan kasih sayangnya’. Maka tidaklah heran jika ia menjadi orang yang selalu berusaha memberi manfaat kepada orang lain. Rabi’ bin Anas berkata, “Tertulis dalam kitab terdahulu: perumpamaan Abu Bakar As-Shiddiq adalah seperti tetesan air hujan. Di mana pun jatuh, ia member manfaat.

Pemimpin Amanah

Abu Bakar memahami bahwa kepemimpinan sejatinya adalah amanah. Kepemimpinan bukanlah kekuatan yang mendorong dirinya untuk bertindak sesuka hati. Kepemimpinan baginya adalah tugas berat agar ia mampu menegakkan keadilan dan kebenaran serta menghapuskan berbagai kemudharatan dan kemaksiatan. Hal ini tergambar dalam pidatonya sesaat setelah dibai’at menjadi khalifah,

“Wahai umat Islam! Sesungguhnya aku telah dipilih untuk memimpin kalian, padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Jika akau melakukan sesuatu yang baik, bantulah aku. Jika aku melakukan perbuatan yang menyimpang maka luruskanlah aku! Sebab kejujuran adalah amanah, sedangkan kebohongan adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian itu kuat dalam pandanganku. Aku akan penuhi hak-haknya, insya Allah. Sedangkan orang yang kuat di antara kalian itu lemah di hadapanku. Aku akan tuntut kewajibannya, insya Allah. Ketika suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah maka Allah pasti akan menghinakan mereka. Setiap kali kemaksiatan merajalela di tengah suatu kaum, Allah pasti menimpakan malapetaka kepada mereka. Taatlah kalian kepadaku selama aku taat kepada Allah dan rasul-Nya. Jika aku melakukan kemaksiatan kepada Allah dan rasul-Nya maka tidak ada kewajiban taat kalian kepadaku…”

Tidak Berlebihan ‘Menikmati’ Harta Umat

Kesadaran bahwa kepemimpinan itu hanyalah amanah dan bukan alat untuk mengumpulkan kekayaan, membuat Abu Bakar bersikap hati-hati terhadap harta milik umat. Dia tidak berani meminta bagian dari harta milik umat kecuali setelah Umar dan Abu Ubaidah menetapkan jatah baginya.

Ibnu Sa’ad dari Atha’ bin Saib mengisahkan bahwa ketika Abu Bakar dibaiat menjadi khalifah, dia pernah berangkat ke pasar dengan memanggul kain. Umar bertanya, “Mau ke mana kau?” Abu Bakar menjawab, “Ke pasar.” Umar bertanya, “Apa yang akan kau lakukan, sedangkan kau telah diangkat sebagai khalifah untuk memimpin umat Islam?” Abu Bakar balik bertanya, “Lalu, darimana aku harus memberi makan keluargaku?” Kemudian Umar berkata, “Pergilah ke rumah Abu Ubaidah. Kita akan meminta pendapatnya tentang biaya hidupmu dan keluargamu.” Keduanya lalu pergi menuju rumah Abu Ubaidah. Abu Ubaidah berkata, “Aku anggarkan untukmu makanan seperti yang dimakan seorang Muhajirin, bukan dari golongan atas dan bukan dari golongan bawah, serta pakaian musim dingin dan musim panas. Apabila itu telah rusak, kembalilah dan silahkan ambil yang lain.” Lalu, Abu Ubaidah dan Umar menetapkan jatah makanan Abu Bakar setiap harinya setengah kambing, serta apa yang dipakainya untuk menutupi kepala dan badan.

Ibnu Sa’ad dari Maimun memberitakan bahwa para pengurus Baitul Mal menetapkan gaji Abu Bakar sebesar 2.000 dirham. Lalu Abu Bakar berkata, “Aku mohon agar jumlah itu ditambah karena aku mempunyai keluarga, sedangkan kalian telah membuatku tidak bisa berdagang.” Kemudian mereka pun memberikan tambahan gaji kepada Abu Bakar sebesar 500 dirham.

Peduli Umat

Abu bakar memiliki Baitul Mal di Sanah, sebuah tempat di pinggiran KotaMadinah. Dari Baitul Mal inilah Abu Bakar pernah membagikan harta untuk rakyatnya yang fakir miskin dengan pembagian yang merata. Dia membeli unta, kuda, dan senjata untuk kepentingan jihad di jalan Allah. Dia juga membeli karpet yang dibawa orang-orang Badui dan dia bagikan kepada janda-janda yang ada di Madinah. Ketika Abu Bakar wafat dan telah dimakamkan, Umar memanggil orang-orang kepercayaannya, diantaranya Abdurahman bin Auf dan Utsman bin Affan. Mereka masuk ke Baitul Mal milik Abu bakar dan membukanya, namun mereka tidak mendapatkan satu dinar atau dirham pun di dalamnya.

Sekelumit Karakter Mulia Sang Amirul Mu’minin

Sama halnya dengan Abu Bakar, Umar bin Khattab pun memiliki keunggulan dalam kepemimpinannya.

Kebijakan-Kebijakan Baru Yang Maju

Amirul Mu’minin, Umar bin Khattab, adalah orang yang pertama kali menetapkan penanggalan Islam yang diawali dari hijrahnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam; ia juga disebut-sebut sebagai orang yang pertama kali membangun administrasi baitul mal dalam pemerintahan Islam; dalam peribadatan, Umar lah yang pertama kali memerintahkan shalat tarawih berjama’ah di bulan Ramadhan; ia pula yang pertama kali membangun kantor-kantor administrasi dan memberikan gaji khusus kepada orang-orang yang masuk Islam lebih dahulu; mengangkat hakim di kota-kota dan membangun kota-kota, seperti Kufah, Bashrah, Umar juga adalah orang yang pertama kali mengambil zakat kuda; dan banyak lagi kebijakan-kebijakan lainnya.

Ibnu Sa’ad berkata, “Umar membuat lumbung untuk menyimpan tepung gandum, kurma, kismis, dan semua bahan makanan yang diperlukan. Dengan lumbung makanan tersebut, Umar membantu orang-orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan. Dia membangun lumbung itu di antara Makkah dan Madinah yang gampang diambil oleh orang yang membutuhkannya. Dia juga yang pertama merenovasi Masjid Nabawi di madinah dan memperluasnya, serta menghamparinya dengan batu kerikil yang lembut. Umar adsalah yang mengusir orang-orang Yahudi dari Hijaz ke Syam dan mengusir orang-orang Najran ke Kufah. Umar juga menempatkan maqam Ibrahim pada posisinya yang kita lihat hingga sekarang. Maqam Ibrahim sebelumnya menempel dengan Ka’bah.”

Berbagai pembebasan wilayah banyak dilakukan pada masa Umar; Himsh, Baklabakka, Bashrah, Aballah, Yordania, Thabarriyah, Ahwaz, Madain, Tikrit, Baitul Maqdis, dan masih banyak lagi daerah-daerah lain, hingga Islam menjadi sebuah kekuatan yang besar.

Pribadi yang Tegas namun Lembut

Meskipun memimpin kekuatan yang demikian besar, Umar bin Khattab tetap menjadi pribadi yang sederhana, rendah hati, namun tegas.

Umar bin Khattab berkata tentang gaya kepemimpinan yang dipilihnya, “Sesungguhnya pemerintahan ini tidak mungkin bisa berjalan kecuali dengan ketegasan, tetapi tidak zalim; dan kelembutan, tetapi tidak lemah dan takut.”

Pemerintahan yang Bersih

Khuzaimah bin Tsabit berkata, “Jika Umar mengangkat pejabat, dia akan menuliskan baginya suatu perjanjian. Dia mensyaratkan kepada pejabat itu untuk tidak mengendarai kuda, tidak memakan makanan dengan kualitas tinggi, tidak memakai pakaian yang halus, dan tidak menutup rumahnya bagi siapa yang terdesak kebutuhannya. Jika dia melakukannya, dia dipecat.”
Umar juga memerintahkan kepada para pejabatnya atau orang yang akan diangkatnya sebagai pejabat untuk mencatat harta kekayaannya.

Sebagaimana halnya Abu Bakar, Umar bin Khattab pun sangat berhati-hati terhadap harta milik umat. Umar awalnya tidak makan dari harta Baitul Mal, ketika terjadi masa paceklik, dia meminta kepada para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberikan pendapat. Dia berkata, “Aku telah menyibukkan diri dengan urusan khalifah ini. Lalu apakah aku boleh mengambil sesuatu dari Baitul Mal?” Ali berkata, “Engkau boleh mengambil makanan untuk makan siang dan malam.” Lalu Umar mengambil dari Baitul Mal sebagaimana yang disarankan Ali.

Ibnu Sa’ad dari Sufyan bin Abu Auja’ menceritakan bahwa Umar pernah berkata, “Demi Allah, aku tidak mengetahui apakah aku ini seorang raja atau khalifah. Jika aku ini adalah seorang raja maka ini adalah persoalan yang besar.” Seorang yang hadir berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, sesungguhnya di antara keduanya itu memiliki perbedaan yang besar.” Umar bertanya, “Apa perbedaannya?” Orang itu menjawab, “Seorang khalifah itu tidak mengambil harta rakyatnya, kecuali dengan cara yang benar dan mempergunakannya dengan cara yang benar pula dan engkau seperti itu, sedangkan seorang raja adalah orang yang melakukan kezaliman kepada manusia, mengambil hak orang lain dengan sekehendaknya, dan memberikan hartanya dengan sekehendaknya pula.” Mendengar itu Umar terdiam.

Hasan berkata, “Suatu ketika, Umar dating ke rumah anaknya yang bernama Ashim. Saat itu Ashim sedang memakan daging. Umar berkata, ‘Apa ini?’ Ashim menjawab, ‘Kami ingin sekali makan daging’ Umar berkata, ‘Apakah kau akan memakan setiap yang kau inginkan? Seseorang dianggap sebagai pemboros jika dia selalu menuruti apa yang dinginkannya.’”

Qatadah mengatakan bahwa pada saat Umar menjabat sebagai khalifah, dia memakai jubah dari bahan wol yang ditambal dengan kulit. Dia berkeliling di pasar sambil membawa cemeti untuk memukul orang yang berlaku curang.

Abdullah bin Amir pernah melaksanakan haji bersama Umar. Dia tidak pernah mendirikan kemah atau tenda. Yang dilakukannya adalah menggelar tikar di bawah pohon, lalu berteduh di bawah pohon itu.

Lengkapnya Klik DISINI

Masih Mau Pacaran setelah Baca Kisah Ini? Anda Pasti Gak Waras

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

Allah Ta’ala sudah menegaskan di dalam al-Qur’an al-Karim agar umat manusia-bukan hanya kaum Muslimin-tidak mendekati zina. Sebab zina merupakan perbuatan keji dan jalan (perbuatan/tindakan) yang paling buruk.

Di dalam banyak haditsnya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa zina merupakan satu di antara sekian banyak dosa besar, pangkal sengsara, pelakunya pasti terhina di dunia dan akhirat, pelakunya akan disegerakan balasannya, dan banyak dampak buruk lainnya.

Baru-baru ini, kisah ini terjadi di sebuah daerah di Jawa Timur. Kisah yang menjadi bukti Mahabenarnya Allah Ta’ala dan tepatnya sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terkait zina dan berbagai hal yang mengantarkan kepadanya.

***

Umurnya baru sekitar tujuh belas tahun. Karena tidak memiliki ilmu dan iman, ia menerima tawaran pacaran dari seorang laki-laki. Setelah terjerumus atas nama cinta, keduanya semakin dekat dengan amalan setan yang terlaknat. 
Dalam satu bulan masa pacaran yang dijalani, keduanya terlibat dalam seburuk-buruknya zina. Layaknya suami-istri, keduanya lakukan hubungan sebanyak lima belas kali dalam satu bulan. Si perempuan positif hamil. Si laki-laki ketakutan, lalu melarikan diri agar tidak dimintai pertanggungjawaban oleh pacar dan keluarganya.

Belum kelar duka lantaran pacar pertama kabur, datanglah laki-laki kedua. Atas bisikan setan, keduanya langsung jadian. Baru satu pekan jadian, wanita ini kembali melakukan zina dengan laki-laki yang menjadi pacar keduanya.

Si laki-laki kedua mengikuti jejak laki-laki pertama setelah mengetahui bahwa pacarnya sudah hamil sebelum berzina dengannya. Dalam upaya kabur itu, laki-laki kedua digeruduk polisi. Konyolnya, si wanita mengaku sebagai korban saat melaporkan diri ke polisi. Bukannya dia dan dua laki-laki itu sama-sama pelaku?

Nau’dzubillahi min dzalik.

***

Kisah ini hanya satu di antara sekian banyaknya kisah serupa. Bermula dari pacaran, zina besar pun terjadi; atas alasan apa pun. Ketika dua orang sudah terlibat dalam pacaran, setan akan makin leluasa dalam menggoda, lalu menjerumuskan. Masing-masing pihak yang pacaran baru sadar saat semuanya sudah terlambat.

Jika kisah ini sampai kepada Anda, kemudian masih nekat menjalin zina bernama pacaran, sepertinya ada yang tidak beres di otak Anda.

Wallahu a’lam. [Pirman/Bersamadakwah]
Lengkapnya Klik DISINI

Ketampanan Paras Berbalut Keelokan Pekerti

Fir'adi NasruddinAllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚقُلْ مَا عِنْدَ الَّهِ خَيْرٌ مِنَ الَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚوَالَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah, “Apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.” (QS. Al-Jumu’ah: 11).

Saudaraku,

Ketika itu paceklik menyelimuti kota Madinah. Jum’at di suatu siang, cuaca terik membakar kulit menyapa kota Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Waktu Zuhur telah masuk, seperti biasa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan khutbah di hadapan para sahabatnya. Sementara para sahabat mendengarkannya dengan seksama, mengikuti alur ajaran dan nasihat yang disampaikan oleh sang guru besar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Tiba-tiba suasana menjadi gaduh. Satu persatu sahabat meninggalkan khutbah dan berebut untuk keluar dari masjid. Bahkan Jabir bin Abdillah sebagaimana tersebut dalam riwayat Muslim, ia berkata, “Tiada sahabat yang tetap setia mendengarkan khutbah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melainkan hanya dua belas orang saja, aku (Jabir), Abu Bakar dan Umar termasuk dari mereka yang tetap berada dalam ruangan masjid.”

Tetapi beliau tetap meneruskan khutbahnya. Beliau memperingatkan para sahabatnya seraya bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sekiranya kalian satu persatu meninggalkan khutbah, sehingga tiada tersisa seorang pun yang tetap tinggal di tempat ini, niscaya kalian akan binasa terbakar api neraka.” (HR. Ibnu Hibban dan Abu Ya’la).

Di luar masjid, tabuhan rebana bergema. Apa pasal? keramaian di luar adalah merupakan sambutan meriah untuk seorang sahabat yang baru datang dari negeri Syam dengan membawa barang dagangannya. Mulai dari gandum, tepung dan segala keperluan sehari-hari. Dan memang Madinah hari-hari itu sedang dilanda kekeringan dan kekurangan makanan serta harga-harga yang melambung tinggi dikarenakan langkanya persediaan sembako. Dagangan itu adalah milik saudagar kaya dan pemilik wajah tampan di Madinah kala itu. Dia adalah Dihya bin Khalifah al-Kalbi. Sabahat mulia yang selalu disambut kedatangannya oleh keluarganya dengan tabuhan rebana, seperti disebutkan al-Qurthubi dalam tafsirnya “al-Jami’ li ahkam al-Qur’an”.

Saudaraku,

Peristiwa inilah yang menyebabkan turunnya ayat 11 dari surat al-Jumu’ah: “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu yang sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah, “Apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dari pada permainan dan perniagaan,” dan Allah sebaik-baik pemberi rezki.”

Itulah Dihya al-Kalbi, seorang sahabat yang tercatat dalam sejarah sebagai saudagar kaya di samping saudagar terkenal lainnya; Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Namun nama Dihya memang jarang disebut, tidak sesering Utsman dan Abdurrahman bin Auf. Ketiganya adalah saudagar yang memiliki bisnis Internasional; ekspor-impor Madinah, Syam dan Yaman.

Untuk itulah bukan sekali Dihya mengadakan perjalanan ke luar negeri untuk menjalankan bisnisnya. Dihya selalu ingat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam perjalanannya ke luar. Berkali-kali Dihya membawakan oleh-oleh khusus buat Nabi. Seperti yang dia tuturkan, “Aku baru datang dari Syam, aku membawakan oleh-oleh buat Nabi berupa buah, kacang, fustuk dan kue.”

Pada kesempatan lain Dihya membawakan sandal dan sepatu buat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan beliupun memakai sandal dan sepatu itu hingga rusak dan sampai tidak layak pakai lagi. Beliau menghargai pemberiannya dengan selalu memakai sandal dan sepatu tersebut. Bukan itu saja, bahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menghadiahkan sesuatu untuk Dihya. Seperti budak Qibtiyah dari Rasulullah untuk Dihya.

Itulah praktek nyata dari anjuran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Saling bertukarlah hadiah karena ia akan mengukuhkan kasih sayang di antara kamu.” (HR. Bukhari dalam kitab “Al-Adab Al-Mufrad dan imam Malik).

Saudaraku,

Kesibukannya mengelola bisnis tidak menghalangi Dihya untuk berkontribusi terbaik bagi perjunagn Islam dan kaum muslimin. Dihya tidak pernah absen dari peperangan yang terjadi di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kecuali perang Badar saja. Sementara sisanya ia selalu mengikutinya. Bahkan peperangan sengit saat menaklukkan Yahudi di benteng pertahanan mereka yang terakhir, yaitu di Khaibar tahun ke 7 H, juga diikuti oleh Dihya. Dalam peperangan itu Dihya mendapat bagian tawanan perang yaitu Shafiyah bin Huyay. Setelah Dihya mendapatkannya ada seorang sahabat yang mengatakan bahwa Shafiyah tidak layak diberikan untuk Dihya, tetapi hanya layak diberikan untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka sebagai ganti dari kekecewaan Dihya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menukar seorang Shafiyah yang kemudian diperistri oleh beliau dengan tujuh orang budak.

Dengan demikian, Dihya adalah seorang saudagar sekaligus mujahid. Tentunya ini jarang terjadi. Karena saudagar biasanya identik dengan gelimang harta kekayaan, yang membuat seseorang takut mati. Dihya tahu bagaimana harus bersikap terhadap hartanya, sehingga hartanya tidak merusak keimanan dan jihadnya.

Saudaraku,

Selain memiliki harta yang berlimpah dan bisnis yang maju, Dihya juga diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelebihan yang tidak dimiliki oleh sahabat lainnya, yaitu ketampanan wajah dan keelokan paras. Untuk itulah Jibril a.s sering meminjam wajahnya, jika datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam bentuk menyerupai seorang laki-laki.

Para sahabat melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama Dihya. Mereka tidak tahu bahwa yang bersama beliau sejatinya adalah Jibril a.s dan bukan Dihya. Sampai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri mengakui ketampanan Dihya, “JIbril datang kepadaku dengan meminjam wajah Dihya al-Kalby, dan Dihya adalah seorang lelaki yang sangat tampan,” kata beliau.

Kedatangan Jibril a.s dengan wajah Dihya diketahui oleh sahabat dalam kesempatan yang berbeda-beda. Suatu saat Aisyah radhiallahu ‘anha pernah berkata, “Ya Rasulullah, aku lihat engkau baru saja berbincang-bincang sambil berdiri bersama Dihya al-Kalbi.” Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Apakah memang demikian yang kamu lihat?,” “Ya,” jawab Aisyah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Yang baru saja kamu lihat adalah Jibril, dia menyampaikan salam untukmu.” Aisyah berkata, “Wa alaihis salam warahmatullah.”

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha juga pernah melihat Jibril ‘Alaihi Salam dalam bentuk Dihya. Ia menuturkan, “Suatu hari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berbincang-bincang dengan seseorang.” Ketika orang itu pergi, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghampiriku dan bertanya, “Tahukah kamu siapa yang baru saja bersamaku?,” aku menjawab, “Dihya al-Kalbi.” Aku tidak tahu kalau sebenarnya yang datang itu adalah Jibril Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kecuali setelah aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bercerita tentang obrolan kami kepada para sahabatnya.”

Selain kedua istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini, ada juga beberapa orang sahabat yang sempat melihat Jibril a.s dalam bentuk wajah Dihya. Seperti yang terjadi menjelang keberangkatan para sahabat menuju perkampungan Bani Quraidzah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya, “Apakah baru saja ada orang yang lewat?,” para sahabat menjawab, “Ya, wahai Rasulullah, yang baru saja lewat adalah Dihya bin Khalifah al-Kalbi, yang mengendarai kuda berwarna putih. Di atas kudanya ada pelana yang dilapisi oleh kain yang terbuat dari sutera.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Itu tadi adalah Jibril yang diutus untuk mendatangi kaum Yahudi bani Quraizhah untuk menggetarkan benteng-benteng mereka dan membuat mereka takut.”
Dihya dengan segala kesibukan dan kelebihannya itu, ternyata masih menyimpan keahlian berdiplomasi. Maka kepergiannya suatu kali ke Syam, bukan saja membawa barang dagangan. Tetapi ia mendapat tugas besar untuk menyampaikan surat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada kaisar Romawi (Heraklius). Surat yang berisi ajakan untuk memeluk Islam kepada kaisar yang memerintah salah satu negara super power kala itu.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengirim surat ke berbagai penguasa. Dan tentunya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mempunyai pandangan dan pilihan yang tepat terhadap para sahabat yang cocok untuk menyampaikan surat itu, dilihat dari berbagai sudut. Sudut kemampuan berdiplomasi, sudut penguasa yang akan dihadapi dan seterusnya. Dan untuk menghadapi tipe kaisar, memang Dihya-lah orang yang paling pantas untuk menjalankan tugas mulia ini. Ternyata kaisar mengakui kerasulan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kalaulah bukan karena gengsi sebagai seorang pemimpin besar, pastilah dia sudah mengikrarkan dua kalimat syahadat.

Dihya menghembuskan nafas yang terakhir pada tahun 45 H, ketika kaum muslimin saat itu dipimpin oleh khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan r.a.

Saudaraku,

Mari kita urai buah pelajaran dan pengajaran yang dapat kita petik dari kisah sahabat yang dikenal dengan ketampanan wajahnya ini.

Pertama, walau Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sebagian sahabat memilih untuk hidup miskin (baca; sederhana), karena lebih cepat membuka jalan ke surga. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Orang-orang yang miskin itu lebih dahulu masuk surga sebelum orang-orang kaya dengan jarak lima ratus tahun.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Nasa’i).
Tetapi bukan berarti kekayaan akan menutup jalan ke sana. Bahkan ada pintu-pintu surga yang harus dibuka dengan kekayaan. Seperti pintu infaq, sedekah dan zakat, hanya bisa dibuka dengan harta. Maka Dihya adalah sahabat yang lebih memilih jalan kekayaan untuk membuka pintu surga.

Kedua, iman dan kualitas amal shalih sebagai mahar mempersunting bidadari di surga. Tidak semua orang kaya akan masuk neraka dan tidak pula semua orang miskin dijamin masuk surga. Begitu pula sebaliknya. Yang harus kita hindari adalah kekayaan yang melalaikan atau kemiskinan yang menjerumuskan. “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan dan kekayaan,” demikianlah do’a Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam berbagai kesempatan, terdapat dalam shahih Muslim.

Ketiga, perhatian dan ketulusan cinta hendaknya kita berikan kepada para da’i di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satu bukti perhatian dan ketulusan cinta kita kepada mereka adalah memberi buah tangan pada momen-momen tertentu, seperti sewaktu kita pulang dari bepergian.

Keempat, paras yang elok dan ketampanan wajah tidak akan berarti apapun, jika tidak dihiasi dengan keindahan akhlak. Bahkan wajah rupawan bisa melemparkan si empunya wajah ke dalam neraka, bila ia tidak sadar bahwa hal tersebut merupakan ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kelima, menjadi orang istimewa di mata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak harus menjadi orang yang kesohor di hadapan publik. Tapi karya nyata, dan kontribusi maksimal yang dapat kita persembahkan untuk kemenangan Islam dan kaum muslimin itulah yang menjadi parameternya. Tentunya setelah iman yang mengagumkan.

Saudaraku,

Sanggupkah kita menjadi Dihya al-Kalbi di zaman kita ini?. Bukan ketampanan wajahnya. Tapi kesuksesan dunia yang menginspirasi keberuntungan di akherat sana. Semoga kita mampu memadukan dua kesuksesan tersebut. Amien. Wallahu a’lam bishawab..

Metro, 14 Januari 2016
Fir’adi Abu Ja’far

Lengkapnya Klik DISINI

Tidak Semua Pendapat Dalam Khilafiyah Itu Bisa Ditoleransi

Siapapun Anda yang datang berkunjung di Blog ini merupakan Inspirasi terbesar kami dalam berkarya untuk memberikan yang terbaik...Selamat Membaca...!!!

 khilafiyah
Seringkali kita dapatkan ketika para da’i mengoreksi sebuah kesalahan dalam beragama atau memberikan nasehat untuk meninggalkan sesuatu yang salah mereka menghadapi pernyataan-pernyataan seperti “Sudahlah biarkan saja, ini khan khilafiyah” atau “Orang sudah pergi ke bulan koq masih membahas khilafiyah” atau “Jangan merasa benar sendiri lah, ini khan khilafiyah”. Pada hakikatnya pernyataan-pernyataan tersebut datang dari orang-orang yang enggan menerima nasehat tapi tidak bisa membantah karena tidak memiliki ilmu, akhirnya dalih ‘khilafiyah’ pun dipakai.

Pada prakteknya, terkadang yang mereka anggap ‘khilafiyah’ itu ternyata bukan khilafiyah, namun terkadang memang khilafiyah. Yang ingin kami bahas di sini adalah jika memang ternyata yang dibahas adalah perkara khilafiyah. Kami akan tunjukkan bahwa tidak semua perkara khilafiyah itu bisa ditoleransi, sehingga semuanya dianggap benar dan boleh dipegang.

Jika Terjadi Perselisihan Wajib Berhukum Kepada Dalil Bukan ‘Khilafiyah’

Terlalu banyak firman Allah dan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang memerintahkan kita untuk berhukum dengan Qur’an dan Sunnah ketika terjadi perselisihan. Allah Ta’ala berfirman:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59)

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

“Tentang sesuatu yang kalian perselisihkan maka kembalikan putusannya kepada Allah” (QS. Asy Syura: 10)

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Sesungguhnya sepeninggalku akan terjadi banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin. Peganglah ia erat-erat, gigitlah dengan gigi geraham kalian” (HR. Abu Daud 4607, Ibnu Majah 42, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud )

Hadits ini juga memberi faidah bahwa Qur’an dan Sunnah dipahami dengan pemahaman para salaf. Selain itu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إن بني إسرائيل تفرقت على ثنتين وسبعين ملة ، وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة كلهم في النار إلا ملة واحدة ، قال من هي يا رسول الله ؟ قال : ما أنا عليه وأصحابي

“Bani Israil akan berpecah menjadi 74 golongan, dan umatku akan berpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di nereka, kecuali satu golongan”. Para sahabat bertanya: “Siapakah yang satu golongan itu, ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Orang-orang yang mengikutiku dan para sahabatku” (HR. Tirmidzi no. 2641. Dalam Takhrij Al Ihya (3/284) Al’Iraqi berkata: “Semua sanadnya jayyid”)

Jelas sekali bahwa jika ada perselisihan maka solusinya adalah kembali kepada dalil, dan tentunya dipahami dengan pehamaman generasi terbaik umat Islam yaitu sahabat Nabi, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Maka tidak tepat sebagian orang yang jika ada perselisihan selalu menuntut toleransi terhadap semua pendapat, seolah semua pendapat itu benar semua, dan semuanya halal, hanya dengan dalih ‘ini khan khilafiyyah‘.

Pendapat Ulama Bukan Dalil

Para ulama berkata:

أقوال أهل العلم فيحتج لها ولا يحتج بها

“Pendapat para ulama itu butuh dalil dan ia bukanlah dalil”

Imam Abu Hanifah berkata:

لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا؛ ما لم يعلم من أين أخذناه

“Tidak halal bagi siapapun mengambil pendapat kami, selama ia tidak tahu darimana kami mengambilnya (dalilnya)” (Diriwayatkan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Al Intiqa 145, Hasyiah Ibnu ‘Abidin 6/293. Dinukil dari Ashl Sifah Shalatin Nabi, 24)

Imam Ahmad bin Hambal berkata:

لا تقلدني، ولا تقلد مالكاً، ولا الشافعي، ولا الأوزاعي، ولا الثوري، وخذ من حيث أخذوا

“Jangan taqlid kepada pendapatku, juga pendapat Malik, Asy Syafi’i, Al Auza’i maupun Ats Tsauri. Ambilah darimana mereka mengambil (dalil)” (Diriwayatkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al I’lam 2/302. Dinukil dari Ashl Sifah Shalatin Nabi, 32)

Imam Asy Syafi’i berkata:

أجمع الناس على أن من استبانت له سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يكن له أن يدعها لقول أحد من الناس

“Para ulama bersepakat bahwa jika seseorang sudah dijelaskan padanya sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak boleh ia meninggalkan sunnah demi membela pendapat siapapun” (Diriwayatkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al I’lam 2/361. Dinukil dari Ashl Sifah Shalatin Nabi, 28 )

Para ulama bukan manusia ma’shum yang selalu benar dan tidak pernah terjatuh dalam kesalahan. Terkadang  masing-masing dari mereka berpendapat dengan pendapat yang salah karena bertentangan dengan dalil. Mereka kadang tergelincir dalam kesalahan. Imam Malik berkata:

إنما أنا بشر أخطئ وأصيب، فانظروا في رأيي؛ فكل ما وافق الكتاب والسنة؛ فخذوه، وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة؛ فاتركوه

“Saya ini hanya seorang manusia, kadang salah dan kadang benar. Cermatilah pendapatku, tiap yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah, ambillah. Dan tiap yang tidak sesuai dengan Qur’an dan Sunnah, tinggalkanlah..” (Diriwayatkan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Al Jami 2/32, Ibnu Hazm dalam Ushul Al Ahkam 6/149. Dinukil dari Ashl Sifah Shalatin Nabi, 27)

Orang yang hatinya berpenyakit akan mencari-cari pendapat salah dan aneh dari para ulama demi mengikuti nafsunya menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Sulaiman At Taimi berkata,

لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ ، أَوْ زَلَّةِ كُلِّ عَالِمٍ ، اجْتَمَعَ فِيكَ الشَّرُّ كُلُّهُ

“Andai engkau mengambil pendapat yang mudah-mudah saja dari para ulama, atau mengambil setiap ketergelinciran dari pendapat para ulama, pasti akan terkumpul padamu seluruh keburukan” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 3172)

Kapan Khilafiyyah Ditoleransi?

Syaikh Musthafa Al Adawi hafizhahullah berkata: “Ada banyak permasalahan yang para ulama berlapang dada dalam menyikapi perselisihan di dalamnya, karena ada beberapa pendapat ulama di sana. Setiap pendapat bersandar pada dalil yang shahih atau pada kaidah asal yang umum, atau kepada qiyas jaliy. Maka dalam permasalahan yang seperti ini, tidak boleh kita menganggap orang yang berpegang pada pendapat lain sebagai musuh, tidak boleh menggelarinya sebagai ahli bid’ah, atau menuduhnya berbuat bid’ah, sesat dan menyimpang. Bahkan selayaknya kita mentoleransi setiap pendapat selama bersandar pada dalil shahih, walaupun kita menganggap pendapat yang kita pegang itu lebih tepat”. (Mafatihul Fiqhi, 1/100)

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah berkata: “Ucapan sebagian orang bahwa masalah khilafiyah itu tidak boleh diingkari, tidaklah benar. Dan pengingkaran biasanya ditujukan kepada pendapat, fatwa, atau perbuatan. Dalam pengingkaran pendapat, jika suatu pendapat menyelisihi sunnah atau ijma’ yang telah dikenal kebenaran nukilannya, maka pendapat tersebut wajib untuk diingkari menurut kesepakatan para ulama. Meskipun tidak secara langsung pengingkarannya, menjelaskan lemahnya pendapat tersebut dan penjelasan bahwa pendapat tersebut bertentangan dengan dalil, ini juga merupakan bentuk pengingkaran. Sedangkan pengingkaran perbuatan, jika perbuatan tersebut menyelisihi sunnah atau ijma’ maka wajib diingkari sesuai dengan kadarnya”.

Beliau melanjutkan: “Bagaimana mungkin seorang ahli fiqih mengatakan bahwa tidak boleh ada pengingkaran pada masalah khilafiyyah, padahal ulama dari semua golongan telah sepakat menyatakan secara tegas bahwa keputusan hakim jika menyelisihi Al-Qur`an atau As-Sunnah menjadi batal. Walaupun keputusan tadi telah sesuai dengan pendapat sebagian ulama. Sedangkan jika dalam suatu permasalahan tidak ada dalil tegas dari As-Sunnah atau ijma’ dan memang ada ruang bagi ulama untuk berijtihad dalam masalah ini, maka orang yang mengamalkannya tidak boleh diingkari. Baik dia seorang mujtahid maupun muqallid” (I’lamul Muwaqqi’in, 3/224)

Contoh Perkara Khilafiyah Yang Ditoleransi

1. Qunut Subuh

Pendapat pertama: hukumnya sunnah.

Dalil ulama yang berpendapat demikian diantaranya:

    Hadits Bara’ bin ‘Adzib:

    أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْنُتُ فِي الصُّبْحِ، وَالْمَغْرِبِ

    “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasa membaca qunut di waktu subuh dan maghrib” (HR. Muslim 678)

    Hadits dari Muhammad bin Sirin:

    سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ: أَقَنَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصُّبْحِ؟ قَالَ: نَعَمْ، فَقِيلَ لَهُ: أَوَقَنَتَ قَبْلَ الرُّكُوعِ؟ قَالَ: «بَعْدَ الرُّكُوعِ يَسِيرًا»

    “Anas Radhiallahu’anhu ditanya: apakah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam membaca Qunut ketika shalat subuh? Ia berkata: Iya. Kemudian ditanya lagi: apakah membacanya sebelum ruku’? Ia berkata: setelah ruku’ sebentar saja” (HR. Bukhari 1001)

    Hadits Anas bin Maalik:

    قَنَتَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوعِ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ يَدْعُو عَلَى رِعْلٍ، وَذَكْوَانَ، وَيَقُولُ: عُصَيَّةُ عَصَتِ اللهَ وَرَسُولَهُ

    “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berdoa Qunut selama sebulan penuh, beliau mendoakan keburukan terhadap Ri’lan dan Dzakwan serta ‘Ushayyah yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya” (HR. Bukhari 1003, Muslim 677)

    Atsar Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu dalam Mushannaf Abdirrazzaq (3/109) dengan sanad yang shahih bahwa beliau ketika shalat subuh, selesai membaca surat beliau membaca doa qunut lalu setelah itu takbir kemudian ruku’ (Dinukil dari Mafatihul Fiqh, 103)

    Atsar Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhuma dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (2/312-313) dengan sanad shahih dari Abi Raja’ ia berkata: “Aku shalat shubuh bersama Ibnu Abbas di Masjid Bashrah. Ia membaca doa Qunut sebelum ruku’” (Dinukil dari Mafatihul Fiqh, 103)

Dan beberapa hadits shahih dan atsar lainnya. Pendapat ini dipegang oleh Imam Asy Syafi’i, Imam Malik, Ibnu Abdil Barr, Ibnu Abi Ya’la, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, dan Daud Rahimahumullah.

Pendapat kedua: hukumnya sunnah ketika ada musibah, dan bid’ah bila mengkhususkannya pada shalat shubuh
Dalil ulama yang berpendapat demikian diantaranya:

    Hadits Anas bin Maalik:

    قَنَتَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوعِ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ يَدْعُو عَلَى رِعْلٍ، وَذَكْوَانَ، وَيَقُولُ: عُصَيَّةُ عَصَتِ اللهَ وَرَسُولَهُ

    “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berdoa Qunut selama sebulan penuh, beliau mendoakan keburukan terhadap Ri’lan dan Dzakwan serta ‘Ushayyah yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya” (HR. Bukhari 1003, Muslim 677)

    Dalam riwayat Bukhari diceritakan, ketika itu terjadi pengkhianatan dari suku Ri’lan, Dzakwan dan Ushayyah. Mereka membantai 70 sahabat Nabi dari kaum Anshar.

    Hadits Abu Hurairah:
    “Selama sebulan penuh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam setelah membaca سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ pada raka’at terakhir dari shalat Isya beliau membaca doa Qunut:

    اللَّهُمَّ أَنْجِ عَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ اللَّهُمَّ أَنْجِ سَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ

    Ya Allah, tolonglah ‘Ayyash bin Abi Rabi’ah. Ya Allah, tolonglah Walid bin Al Walid. Ya Allah, tolonglah Salamah bin Hisyam. Ya Allah, tolonglah orang-orang lemah dari kaum mu’minin. Ya, Allah sempitkanlah jalan-Mu atas orang-orang yang durhaka. Ya Allah, jadikanlah tahun-tahun yang mereka lewati seperti tahun-tahun paceklik yang dilewati Yusuf “ (HR. Bukhari 1006, 2932, 3386)

    Hadits Abu Malik Al Asyja-’i

    عَنْ أَبِيهِ صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ أَبِي بَكْرٍ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عُمَرَ فَلَمْ يَقْنُتْ ، وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عُثْمَانَ فَلَمْ يَقْنُتْ وَصَلَّيْتُ خَلْفَ عَلِيٍّ فَلَمْ يَقْنُتْ ، ثُمَّ قَالَ يَا بُنَيَّ إنَّهَا بِدْعَةٌ } رَوَاهُ النَّسَائِيّ وَابْنُ مَاجَهْ وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

    “Dari ayahku, ia berkata: ‘Aku pernah shalat menjadi makmum Nabi Shallallahu’alaihi Wassallam namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Abu Bakar namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Umar namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Utsman namun ia tidak membaca Qunut, Aku pernah shalat menjadi makmum Ali namun ia tidak membaca Qunut. Wahai anakku ketahuilah itu perkara bid’ah‘” (HR. Nasa-i, Ibnu Majah, At Tirmidzi. At Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”)

    Atsar Ibnu Umar dari Abul Sya’sya’, dalam Mushannaf Abdirrazzaq(4954) dengan sanad shahih:

    سألت ابن عمر عن القنوت في الفجر فقال : ما شعرت ان احدا يفعله

    “Aku bertanya kepada Ibnu Umar tentang qunut di waktu subuh. Ia berkata: Saya rasa tidak ada seorang pun (sahabat) yang melakukannya” (Dinukil dari Mafatihul Fiqh, 106)

    Atsar dari Ibnu Mas’ud dalam Mushannaf Abdirrazzaq (4949) dengan sanad shahih yang menyatakan bahwa beliau tidak pernah membaca qunut ketika shalat subuh (Dinukil dari Mafatihul Fiqh, 106).

    Jika ditelaah hadits-hadits praktek Nabi membaca qunut, umumnya berkaitan dengan musibah. Ibnul Qayyim berkata: “Petunjuk Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam berdoa Qunut adalah mengkhususkannya hanya pada saat terjadi musibah dan tidak melakukannya jika tidak ada musibah. Selain itu tidak mengkhususkan pada shalat Shubuh saja, walaupun memang beliau paling sering melakukan pada shalat Shubuh” (Zaadul Ma’ad 273/1).

Pendapat ini dipegang oleh Sufyan Ats Tsauri, Imam Abu Hanifah, Al Laits, pendapat terakhir Imam Ahmad, Ibnu Syabramah, Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Pendapat ketiga: melakukannya boleh, meninggalkannya juga boleh
Ulama yang berpendapat mencermati dalil-dalil yang ada dan berkesimpulan bahwa terkadang Nabi membaca doa Qunut dan terkadang beliau meninggalkannya. Yang berpegang pada pendapat ini diantaranya Imam Sufyan Ats Tsauri, Ath Thabari, dan Ibnu Hazm.

Faidah:
Dari ketiga pendapat diatas dapat kita lihat bahwa setiap pendapat berpegang pada dalil yang shahih, didukung dengan pemahaman para salaf (sahabat Nabi, tabi’in dan tabi’ut tabi’in), dan sisi pendalilan yang tidak keluar dari kaidah-kaidah syar’i. Maka setiap pendapat dalam permasalahan ini selayaknya ditoleransi oleh setiap muslim.

 khilafiah

2. Menyemir Rambut Dengan Warna Hitam
Pendapat pertama: haram

Dalil ulama yang berpendapat demikian adalah 2 hadits:

    Hadits Jabir bin Abdillah:

    أُتِيَ بِأَبِي قُحَافَةَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وَرَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ كَالثَّغَامَةِ بَيَاضًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ، وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ»

    “Aku datang bersama Abu Quhafah ketika Fathul Makkah. Rambut dan jenggot beliau putih seperti tsaghamah. Lalu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Ubahlah warna rambutmu ini dengan warna lain, namun jangan hitam’” (HR. Muslim, 2102)

    Hadits Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallambersabda:

    يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ، كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ، لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

    “Akan ada sebuah kaum di akhir zaman yang menyemir rambut dengan warna hitam bagaikan tembolok burung dara. Mereka tidak dapat mencium wanginya surga” (HR. Abu Daud 4212, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud)

Pendapat ini dipegang oleh ulama Syafi’iyyah.

Pendapat kedua: makruh
Ulama yang berpendapat demikian berargumen dengan:

    Larangan pada hadits Jabir dimaksudkan untuk Abu Quhafah dan orang-orang yang semisalnya dalam usia. Ini didukung oleh riwayat dari Ibnu Syihab yang dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (1/367)

    Orang-orang yang dimaksud dalam hadits Ibnu ‘Abbas tidak bisa mencium wangi surga bukan karena sebab perbuatan menyemir rambut namun karena perbuatan lain yang termasuk maksiat. Adapun menyemir rambut dengan hitam hanyalah ciri kebanyakan mereka.

    Atsar dari Mujahid dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (5081) dengan sanad shahih bahwa beliau memakruhkan menyemir rambut dengan warna hitam

    Atsar dari Sa’id bin Jubair dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (5082) dengan sanad shahih bahwa beliau memakruhkan  menyemir rambut dengan warna hitam

Dan beberapa atsar shahih lain dari para tabi’in bahwa mereka memakruhkan hal ini. Pendapat ini dipegang oleh Imam Malik dan Ibnu Abdil Barr.

Namun perlu menjadi catatan, bahwa makruh dalam perkataan salaf sering bermakna haram sebagaimana penjelasan Ibnul Qayyim dalam I’lam Al Muwaqi’in.

Faidah:
Dari tiap pendapat diatas dapat kita lihat bahwa setiap pendapat berpegang pada dalil yang shahih, didukung dengan pemahaman para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, dan sisi pendalilan yang tidak keluar dari kaidah-kaidah syar’i. Maka setiap pendapat dalam permasalahan ini selayaknya ditoleransi oleh setiap muslim.

Contoh Perkara Khilafiyah Yang Tidak Bisa Ditoleransi

1. Bolehnya Seorang Wanita Menikah Tanpa Wali
Imam Abu Hanifah memandang bahwa seorang wanita boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa wali (Lihat Mukhtashar Ikhtilaf Ulama 2/247, Ikhtilaf Ulama A-immah 2/122). Pendapat beliau ini sama sekali tidak didukung oleh dalil, tidak juga didukung oleh pemahaman para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Tentunya pendapat ini sangat bertentangan dengan banyak dalil diantaranya:

    Hadits Abu Musa Al Asy’ari dan Ibnu Abbas bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallambersabda:

    لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ

    “Tidak sah nikah kecuali dengan wali” (HR. Abu Daud 2/568, Ahmad 4/394. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami‘ 7555)

    Hadits ‘Aisyah bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallambersabda:

    أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَإِنْ دَخَل بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتَحَل مِنْ فَرْجِهَا، فَإِنْ تَشَاجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ

    “Wanita mana saja yang menikah tanpa walinya, maka nikahnya batal, nikahnya batal, nikahnya batal! Jika mempelai pria sudah menjima’i-nya, maka mempelai wanita berhak atas maharnya sebagai kompensasi atas persetubuhan yang telah terjadi. Jika wanita ini tidak memiliki wali, maka penguasa adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali” (HR. Abu Daud 2/568. Dishahihkan Al Albani dalam Al Irwa 1840)

    Hadits ‘Aisyah bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallambersabda:

    لاَ تُنْكِحُ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ، وَلاَ تُنْكِحُ الْمَرْأَةُ نَفْسَهَا

    “Seorang wanita tidak boleh menikahkan wanita lainnya. Seorang wanita tidak boleh menikahkan dirinya sendiri” (HR. Ibnu Majah 1/606. Dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam At Talkhis 3/157)

Dan dalil-dalil yang lain. Sehingga jelas bahwa pendapat Imam Abu Hanifah adalah pendapat yang bertentangan dengan dalil syar’i dan tidak boleh ditoleransi. Para ulama mengatakan bahwa kemungkinan besar hadits-hadits di atas tidak sampai kepada Imam Abu Hanifah. Walhasil, kita tidak boleh mentoleransi wanita yang menikah tanpa wali, walaupun ini termasuk perkara khilafiyah.

2. Bid’ahnya Doa Istiftah
Imam Malik berpendapat bahwa do’a istiftah tidak disyari’atkan, atau dengan kata lain: bid’ah (Lihat Ikhtilaf A-immatil Ulama, 1/107). Pendapat beliau ini sama sekali tidak didukung oleh dalil ataupun pemahaman para salaf, selain kaidah umum bahwa hukum asal ibadah adalah haram sampai ada dalilnya. Dan pendapat ini sangat bertentangan dengan banyak dalil diantaranya:

    Hadist dari Abu Hurairah:

    كان رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا كبَّر في الصلاة؛ سكتَ هُنَيَّة قبل أن يقرأ. فقلت: يا رسول الله! بأبي أنت وأمي؛ أرأيت سكوتك بين التكبير والقراءة؛ ما تقول؟ قال: ” أقول: … ” فذكره

    “Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam setelah bertakbir ketika shalat, ia diam sejenak sebelum membaca ayat. Maka aku pun bertanya kepada beliau, wahai Rasulullah, kutebus engkau dengan ayah dan ibuku, aku melihatmu berdiam antara takbir dan bacaan ayat. Apa yang engkau baca ketika itu adalah:… (beliau menyebutkan doa istiftah)” (Muttafaqun ‘alaih)

    Hadits Ibnu Umar Radhiallahu’anhu, ia berkata:

    بينما نحن نصلي مع رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ إذ قال رجل من القوم: اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. فقال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” عجبت لها! فتحت لها أبواب السماء “. قال ابن عمر: فما تركتهن منذ سمعت رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول ذلك

    “Ketika kami shalat bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, ada seorang lelaki yang berdoa istiftah: اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bersabda: ‘Aku heran, dibukakan baginya pintu-pintu langit’. Ibnu Umar pun berkata:’Aku tidak pernah meninggalkan doa ini sejak beliau berkata demikian’”. (HR. Muslim 2/99)

Dan masih banyak lagi hadits shahih yang menyebutkan macam-macam doa istiftah yang dipraktekkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Dengan demikian jelaslah bahwa pendapat Imam Malik tersebut sama sekali tidak benar karena bertentangan dengan banyak dalil syar’i. Para ulama mengatakan bahwa kemungkinan besar dalil-dalil tersebut tidak sampai kepada Imam Malik. Walhasil, kita tidak boleh membiarkan orang yang berkeyakinan bahwa doa istiftah adalah bid’ah, walaupun ini termasuk perkara khilafiyah.

3. Bolehnya Merayakan Maulid Nabi

As Suyuthi, Ibnu Hajar Al Haitsami, Ibnu Hajar Al Asqalani, adalah beberapa ulama yang memfatwakan bolehnya merayakan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Namun pendapat mereka sama sekali tidak didasari oleh dalil shahih atau pemahaman para salaf, kecuali hadits–hadits dha’if, istihsan atau qiyas. Pendapat ini bertentangan dengan kaidah-kaidah syar’i yang fundamental, diantaranya:

    Ibadah itu tauqifiyyah, hanya bisa disyari’atkan atau ditetapkan berdasarkan dalil. Mensyariatkan ibadah tanpa dalil akan termasuk yang disebut dalam firman Allah:

    أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

    “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan ajaran agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih” (QS. Asy Syura: 21)

    Juga sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

    مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

    “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang bukan berasal dari urusan (agama) kami, maka amalan itu tertolak” (Muttafaq ‘alaihi)

    Hadist dha’if tidak bisa menjadi hujjah dalam mensyariatkan sebuah ibadah dan

    Para ulama bersepakat atas kaidah:

    لا قياس ف  إثبات العبادة

    “Tidak ada qiyas dalam menetapkan ibadah”.
    Sebagaimana juga mereka bersepakat tidak boleh menggunakan qiyas dalam masalah aqidah. Dan masalah pensyariatan sebuah ibadah adalah ranah aqidah.

    Istihsan (anggapan baik) bukanlah hujjah untuk mensyari’atkan sebuah ibadah

    Para ulama bersepakat tidak ada ijtihad dalam masalah aqidah. Dengan kata lain, ini bukan ranah ijtihad. Dan masalah pensyariatan sebuah ibadah adalah ranah aqidah.

    Para sahabat hidup sampai 100 tahun sepeninggal Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Namun dalam kurun waktu selama itu tidak ada di antara mereka yang merayakan Maulid Nabi. Andai Maulid Nabi itu baik, maka para sahabatlah yang paling dahulu memulainya. Karena merekalah yang paling bersemangat dalam kebaikan dan paling cinta terhadap Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.

    Tidak ada riwayat shahih bahwa para tabi’in dan tabi’ut tabi’in merayakan Maulid Nabi

    Tidak ada riwayat shahih bahwa seorang pun dari Imam Madzhab yang empat merayakan Maulid Nabi

Dengan demikian jelaslah bahwa pendapat ini adalah pendapat yang tidak bisa ditoleransi walaupun memang khilafiyah.

Wabillahi At Taufiq Was Sadaad

Lengkapnya Klik DISINI
Recent Post widget Inspirasi Rabbani

Menuju

Blog Tetangga

Blog Tetangga
Klik Gambar untuk Berkunjung

Luwuk Banggai SULTENG

Luwuk Banggai SULTENG
ebeeee......